Sen, 15/06/26 · 09.03.18
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Perspektif

Dari Pesisir Kalbar untuk Dunia: Kisah Benteng Hijau di Tengah Krisis Iklim Global

Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Jumat, 5 Juni 2026 · 20:592 menit baca
Dari Pesisir Kalbar untuk Dunia: Kisah Benteng Hijau di Tengah Krisis Iklim Global
Opini Gusti Hardiansyah mengenai pentingnya ekosistem mangrove Kalbar sebagai benteng ekologis dunia, ekonomi hijau, dan penyusunan RPPEM Kalbar. (Dok. Gusti Hardiansyah)

Bayangkan sebuah film geopolitik modern. Bukan tentang kapal induk yang berlayar di Laut Cina Selatan. Bukan pula tentang perang dagang yang setiap pagi muncul di layar ponsel seperti notifikasi yang tak pernah selesai. Film ini justru dimulai dari tempat yang lebih sunyi: dari akar–akar mangrove yang mencengkeram lumpur pesisir Kalimantan Barat.

Dari bentang hijau yang membentang panjang dari kawasan Singbebas—Singkawang, Bengkayang, dan Sambas—menyusuri Mempawah, Kubu Raya, Kayong Utara hingga Ketapang. Di peta Indonesia, wilayah ini mungkin hanya terlihat sebagai garis hijau tipis di tepian laut. Namun dalam peta ketahanan iklim dunia, kawasan ini adalah salah satu benteng terdepan Nusantara. Ironisnya, semakin penting perannya bagi dunia, semakin sedikit orang yang membicarakannya.

Pekerja Sunyi di Tepian Pantai

Mangrove tidak pandai berpidato. Ia tidak memiliki akun media sosial. Ia tidak pernah membuat konferensi pers. Tetapi setiap hari ia bekerja lebih keras dibanding banyak institusi yang memiliki gedung megah dan pendingin ruangan. Ketika ombak datang, ia menahannya. Ketika abrasi menggerus pantai, ia menjadi tameng. Ketika karbon atmosfer meningkat, ia menyimpannya. Ketika ikan, udang, dan kepiting membutuhkan tempat tumbuh, ia menyediakan rumah. Pendek kata, mangrove melakukan pekerjaan strategis dunia tanpa pernah meminta tepuk tangan.

Menutup Kebocoran Devisa, Jangan Membocorkan Kesejahteraan Petani
Baca Juga

Menutup Kebocoran Devisa, Jangan Membocorkan Kesejahteraan Petani

Sementara itu, dunia sedang mengalami kegelisahan yang aneh. Negara–negara besar berlomba menguasai kecerdasan buatan, mineral kritis, energi masa depan, dan rantai pasok global. Mereka sibuk memperebutkan siapa yang akan mengendalikan abad ke–21. Namun pada saat yang sama, mereka mulai menyadari kenyataan yang agak memalukan: teknologi paling efektif untuk menyerap karbon ternyata bukan superkomputer, bukan satelit, bukan pula AI. Melainkan ekosistem mangrove yang telah bekerja diam–diam selama ratusan tahun.

Pagar Ekologis dan Masa Depan Kalbar

Di Kalimantan Barat, cerita ini jauh lebih besar. Bentang mangrove bukan sekadar kumpulan pohon pesisir. Ia adalah pagar ekologis yang menghubungkan daratan, muara, sungai, laut, ekonomi masyarakat, budaya pesisir, dan masa depan pembangunan daerah. Ia adalah benteng hijau yang menjaga garis depan provinsi yang berhadapan langsung dengan Laut Natuna dan dinamika geopolitik Asia Tenggara. Jika hutan hujan tropis disebut paru–paru dunia, maka mangrove adalah sistem pertahanan dunianya.

Sigandul View: Dari Petani Tembakau ke Ekowisata Harapan Iduladha di Wonosobo
Baca Juga

Sigandul View: Dari Petani Tembakau ke Ekowisata Harapan Iduladha di Wonosobo

Masalahnya, benteng paling penting sering kali justru paling jarang diperhatikan. Seperti penjaga malam yang baru dicari ketika alarm sudah berbunyi. Karena itulah penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM) Provinsi Kalimantan Barat bukan sekadar menyusun dokumen pembangunan. Ia adalah penyusunan peta jalan masa depan.

Ini bukan hanya soal pohon. Bukan hanya soal pesisir. Bukan hanya soal lingkungan. Tetapi tentang bagaimana Kalimantan Barat mengubah benteng ekologinya menjadi fondasi ekonomi hijau, ketahanan iklim, kesejahteraan masyarakat, dan kontribusi nyata Indonesia kepada dunia.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak selalu ditentukan oleh mereka yang membangun tembok tertinggi. Sering kali sejarah ditentukan oleh mereka yang cukup bijak menjaga benteng yang telah disediakan alam. Dan benteng itu, hari ini, berdiri kokoh dari Singbebas, Mempawah, Kubu Raya, Kayong Utara hingga Ketapang. Namanya: mangrove.

Oleh: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Untan dan Tim RPPEM Kalbar

*Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan redaksi. Segala pendapat, analisis, dan penilaian sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.