Jum, 03/07/26 · 17.13.20
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Ekspor Kalbar Melonjak 23,4 Persen, Fluktuasi Harga Beras Sintang Jadi Catatan Krisis

Hendrawan
Hendrawan
Jumat, 3 Juli 2026 · 22:382 menit baca
Ekspor Kalbar Melonjak 23,4 Persen, Fluktuasi Harga Beras Sintang Jadi Catatan Krisis
BPS mencatat ekspor Kalbar naik 23,4 persen dan surplus 115,21 juta dolar AS. Namun, fluktuasi harga beras di Sintang menjadi catatan inflasi domestik. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Neraca perdagangan Provinsi Kalimantan Barat mencatatkan surplus sebesar 115,21 juta dolar AS di tengah kondisi neraca perdagangan nasional yang mengalami defisit bulanan. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (1/7/2026), nilai ekspor Kalimantan Barat meningkat 23,40 persen secara bulanan, dari 161,08 juta dolar AS menjadi 198,77 juta dolar AS.

Peningkatan performa ekspor tersebut ditopang oleh komoditas andalan daerah, meliputi bahan kimia anorganik, lemak dan minyak hewan/nabati, serta produk karet. Tiongkok, Mesir, dan Malaysia menjadi tiga negara tujuan utama yang menyerap lebih dari separuh total volume ekspor provinsi ini.

“Ketiga golongan ini memberi kontribusi 4,92 persen terhadap total ekspor Kalimantan Barat atau senilai US$9,77 juta,” ujar Kepala BPS Provinsi Kalimantan Barat, Muh Saichudin, dalam keterangan resminya.

Meski kinerja ekspor meningkat, Kalimantan Barat masih menghadapi tantangan inflasi domestik yang tercatat berada di angka 3,28 persen secara tahunan (year on year). Komoditas strategis seperti beras menjadi salah satu penyumbang utama kenaikan harga di pasar lokal.

Meski Terendah di Kalimantan, Laju Pertumbuhan IPM Kalbar Lampaui Nasional
Baca Juga

Meski Terendah di Kalimantan, Laju Pertumbuhan IPM Kalbar Lampaui Nasional

(Dok. Dayank/Nusantara Post)

Di tingkat daerah, Kabupaten Sintang mendapat sorotan khusus terkait pengendalian harga. Sebagai salah satu simpul ekonomi di kawasan hulu Kalimantan Barat, wilayah ini kerap menghadapi tekanan inflasi yang volatil akibat faktor letak geografis serta tingginya biaya logistik distribusi barang. Fluktuasi harga bahan pangan pokok di Sintang menjadi indikator penting dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah pertumbuhan ekspor provinsi.

Defisit Migas Picu Tekanan Dagang Nasional
Kondisi ekonomi makro di tingkat daerah ini berjalan beriringan dengan situasi moneter nasional. Dalam konferensi pers di Jakarta, BPS Pusat mengumumkan adanya tekanan pada sektor perdagangan luar negeri dan indeks harga nasional.

“Pada Mei tahun 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS,” papar Kepala BPS Pusat.

Defisit pada level nasional tersebut utamanya dipicu oleh net-impor pada sektor minyak dan gas (migas). Selain sektor perdagangan, BPS Pusat melaporkan bahwa kelompok pengeluaran transportasi serta bahan makanan seperti bawang dan beras mengalami kenaikan harga yang dipengaruhi oleh momentum libur sekolah serta penguatan nilai tukar dolar AS.

Sensus Ekonomi 2026: Pemprov Kalbar Bidik Akurasi Data 14 Kabupaten/Kota
Baca Juga

Sensus Ekonomi 2026: Pemprov Kalbar Bidik Akurasi Data 14 Kabupaten/Kota

“Pada Juni tahun 2026 terjadi inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan,” urai Kepala BPS Pusat, seraya menambahkan bahwa angka inflasi tahunan nasional berada di level 3,34 persen.

(Hendrawan)