Sen, 06/07/26 · 19.59.41
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Krisis Iklim Pengaruhi Pasokan Buah Alami Orangutan di Taman Nasional Gunung Palung

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Selasa, 7 Juli 2026 · 01:253 menit baca
Krisis Iklim Pengaruhi Pasokan Buah Alami Orangutan di Taman Nasional Gunung Palung
Research Director Yayasan Palung Edi Wahyu mengonfirmasi krisis iklim global memengaruhi produktivitas pohon buah alami makanan orangutan di TNGP, meski populasi 2.500 individu tetap stabil. (Dok. Dayank/Nusantara Post)

Perubahan iklim global dilaporkan mulai berdampak pada fluktuasi ketersediaan logistik pangan alami satwa endemik di dalam kawasan hutan primer Kalimantan Barat. Yayasan Palung mengonfirmasi adanya penurunan intensitas produktivitas pohon buah musiman yang menjadi sumber makanan utama bagi ribuan individu orangutan di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Meski demikian, otoritas riset mencatat fenomena berkurangnya pasokan pangan akibat anomali cuaca tersebut sejauh ini masih bersifat musiman dan belum memberikan pengaruh permanen terhadap struktur perilaku maupun populasi satwa. Berdasarkan basis data survei terbaru, jumlah populasi orangutan di dalam benteng konservasi TNGP saat ini dilaporkan masih berada di angka stabil, yakni berkisar 2.500 individu.

Informasi ekologis tersebut dipaparkan Research Director Yayasan Palung, Tri Wahyu, di sela-sela agenda Kuliah Umum dan Seremonial Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan), Senin (6/7/2026).

Pontianak Timur Juara Umum MTQ, Kota Pontianak Bersiap ke Tingkat Provinsi
Baca Juga

Pontianak Timur Juara Umum MTQ, Kota Pontianak Bersiap ke Tingkat Provinsi

“Kita masih menggunakan angka survei 2.500 individu yang ada di Gunung Palung saat ini. Sampai saat ini masih dikatakan populasinya masih stabil. Kalau untuk perubahan iklim terkait dengan perilaku itu tidak ada ya. Selama ini masih sama, cuma hanya saja perubahan iklim yang di sana itu terjadinya itu lebih berpengaruh terhadap faktor makanan orangutan,” ujar Tri Wahyu.

Efek Domino Cuaca Terhadap Ketersediaan Pangan Satwa
Menurut pengamatan tim stasiun riset lapangan, dampak krisis iklim bekerja melalui efek domino yang memengaruhi pola pembungaan dan pembuahan pohon-pohon hutan hulu. Penurunan ketersediaan buah dalam periode tertentu sempat membuat intensitas perjumpaan langsung dengan satwa di jalur pemantauan menjadi lebih jarang dari biasanya.

“Dimana faktor makanan orangutan itu perubahan iklim mempengaruhi dari ketersediaan pohon makan orangutan di sana. Dan saat ini sudah terlihat terjadi itu pohon makanan itu sedikit berkurang. Dan itu keberadaan orangutan agak sedikit sulit ditemui. Tapi hal tersebut tidak berefek jangka panjang,” kata Tri Wahyu menambahkan.

Ia menegaskan bahwa resiliensi kawasan TNGP terhadap perubahan iklim masih cukup kuat karena status vegetasi di dalam taman nasional mayoritas merupakan hutan primer yang terjaga dengan baik.

Kopi Liberika Kayong Utara Tembus Pasar Global di WOC Bangkok, Harga Capai Rp595 Ribu per Kilogram
Baca Juga

Kopi Liberika Kayong Utara Tembus Pasar Global di WOC Bangkok, Harga Capai Rp595 Ribu per Kilogram

Mitigasi Konflik Ruang di Luar Kawasan Konservasi
Menanggapi isu gesekan ruang antara satwa dan manusia, Yayasan Palung menegaskan bahwa zonasi konflik sama sekali tidak ditemukan di dalam batas wilayah Taman Nasional Gunung Palung. Kasus masuknya orangutan ke areal konsesi perkebunan dan lahan garapan warga lokal justru terjadi pada kluster hutan produksi atau hutan kemasyarakatan di luar lindungan taman nasional.

“Konflik itu di Taman Nasional Gunung Palung itu tidak ada konflik ya. Tapi untuk hutan di daerah lain itu memang ada beberapa orangutan itu masuk ke wilayah kebun. Tapi itu tetap terjadi dan itu yang masih bisa kita kendalikan dimana konflik orangutan sendiri itu memang tetap ada. Dan kalau untuk solusinya itu biasanya kita ada organisasi lain yang menangani masalah konflik orangutan tersebut,” paparnya.

Afirmasi Pendidikan untuk Dua Kabupaten Penyangga
Dalam kesempatan yang sama, Tri Wahyu membeberkan alasan strategis di balik pemberian investasi beasiswa akademik West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) yang dikhususkan bagi putra-putri daerah asal Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Pemberdayaan komunitas lokal di tingkat tapak dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga bentang alam konservasi masa depan.

“Kenapa mahasiswa Ketapang dan Kayong, karena wilayah kerja Gunung Palung berada di sekitaran dua kabupaten itu,” pungkas Edi Wahyu mengenai komitmen pelibatan masyarakat lingkar hutan.

(Dayank Ana Sebalu)