Sab, 04/07/26 · 18.59.28
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Lingkungan

Potensi Kontribusi Calon Cagar Biosfer MATA PANDAWA terhadap Peningkatan IPM Kalimantan Barat

Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Minggu, 5 Juli 2026 · 00:255 menit baca
Potensi Kontribusi Calon Cagar Biosfer MATA PANDAWA terhadap Peningkatan IPM Kalimantan Barat
Foto bersama perwakilan birokrat, akademisi, pihak swasta, dan NGO dalam kegiatan Working Group Koridor guna menyusun program aksi kolaboratif Cagar Biosfer Mata Pandawa di Kalimantan Barat. (Dok. HO/TNP)

Calon Cagar Biosfer MATA PANDAWA yang merangkai Selat Karimata, Taman Nasional Gunung Palung, dan Hutan Lindung Mendawak bukan sekadar agenda konservasi. Ia bukan pula hanya ikhtiar mendapatkan pengakuan UNESCO. Lebih dari itu, MATA PANDAWA adalah cara baru membaca Kalimantan Barat: bahwa hutan, laut, gambut, mangrove, satwa liar, sungai, desa, dan manusia adalah satu kesatuan lanskap kehidupan.

Sering kali kita keliru memahami cagar biosfer sebagai label internasional. Seolah-olah setelah sebuah kawasan ditetapkan, selesai sudah tugas kita. Padahal label tidak memberi makan masyarakat.

Status tidak otomatis menyekolahkan anak-anak desa. Pengakuan dunia tidak serta-merta mengurangi asap, meningkatkan pendapatan, atau memperbaiki kualitas hidup. Nilai sejati cagar biosfer justru terletak pada kemampuannya menjadi platform pembangunan manusia berbasis lanskap.

Dalam papan catur pembangunan nasional di era Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kalimantan Barat tidak boleh hanya dibaca sebagai halaman belakang Indonesia.

Memimpin Lanskap, Menyambung Kehidupan: Kolaborasi Koridor Mata Pandawa untuk Masa Depan Kalimantan Barat
Baca Juga

Memimpin Lanskap, Menyambung Kehidupan: Kolaborasi Koridor Mata Pandawa untuk Masa Depan Kalimantan Barat

Ia adalah beranda ekologis republik: menyimpan hutan tropis, gambut, mangrove, sungai besar, biodiversitas, pangan, energi, dan karbon masa depan. Namun, di sisi pembangunan manusia, pekerjaan rumahnya masih nyata.

BPS mencatat IPM Kalimantan Barat tahun 2025 mencapai 72,09, naik 0,90 poin atau 1,26 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 71,19.

Pada tahun yang sama, IPM Indonesia mencapai 75,90, meningkat dari 75,02 pada tahun sebelumnya. Artinya, Kalimantan Barat sudah bergerak maju, tetapi masih harus berlari lebih cepat agar tidak tertinggal dari capaian nasional.

Angka itu patut disyukuri, tetapi belum cukup untuk membuat kita berpuas diri. Setiap angka dalam IPM menyimpan wajah manusia: anak desa yang ingin sekolah lebih lama, ibu yang ingin udara bebas asap, petani hutan yang ingin pendapatan layak, dan pemuda kampung yang ingin bekerja tanpa harus meninggalkan tanah kelahirannya.

Al-Mulk, Amanah Kekuasaan dan Air Kehidupan
Baca Juga

Al-Mulk, Amanah Kekuasaan dan Air Kehidupan

Dalam kepemimpinan Gubernur Ria Norsan dan Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan, peningkatan IPM perlu diterjemahkan menjadi kerja lintas sektor, lintas wilayah, dan lintas lanskap.

Dalam kerangka itulah MATA PANDAWA perlu dibaca sebagai salah satu instrumen strategis peningkatan IPM Kalimantan Barat. IPM tidak hanya bicara angka statistik, tetapi mencerminkan martabat manusia: apakah ia hidup sehat, memperoleh pengetahuan, dan memiliki standar hidup yang layak. Tiga komponen ini dapat disentuh secara nyata oleh MATA PANDAWA.

Spanduk resmi working group tata kelola landskap koridor mata pandawa kalbar
Working Group Koridor untuk Tata Kelola Landskap Mendawak Berkelanjutan di Koridor Mata Pandawa yang digelar di Pontianak, Kalimantan Barat. (Foto: Dok. Istimewa)

Pertama, dari sisi kesehatan. Hutan yang sehat adalah rumah bagi udara yang lebih bersih, air yang lebih terjaga, dan lingkungan yang lebih aman. Di Kalimantan Barat, karhutla bukan sekadar peristiwa ekologis; ia adalah bencana kesehatan. Asap masuk ke paru-paru bayi, mengganggu sekolah, menurunkan produktivitas, dan merampas hari-hari sehat masyarakat. Jika MATA PANDAWA mampu menjadi lanskap rendah api, bahkan menuju zero fire pada zona-zona inti, maka ia berkontribusi langsung pada kualitas hidup masyarakat. Perlindungan gambut, mangrove, daerah aliran sungai, dan hutan alam bukan hanya urusan flora-fauna. Itu adalah perlindungan terhadap air minum, pangan lokal, perikanan pesisir, mikroklimat desa, dan ketahanan hidup masyarakat. Selat Karimata mengingatkan kita bahwa laut dan darat tidak terpisah. Gunung Palung menjaga napas biodiversitas. Mendawak menyambung denyut lanskap. Bila semua ini dirawat, maka kesehatan manusia ikut terangkat.

Kedua, dari sisi pendidikan. Cagar biosfer seharusnya menjadi laboratorium hidup. Anak-anak sekolah dapat belajar bahwa orangutan bukan sekadar gambar di buku, tetapi penanda kesehatan hutan. Mahasiswa dapat meneliti gambut, mangrove, karbon, perhutanan sosial, dan ekonomi hijau. Pemuda desa dapat dilatih menjadi pemandu ekowisata, enumerator biodiversitas, operator drone, pengelola data karbon, atau pelaku usaha hasil hutan bukan kayu. MATA PANDAWA dapat mempertemukan perguruan tinggi, sekolah, KPH, desa, masyarakat adat, peneliti, dan pelaku usaha dalam ruang belajar bersama. Pendidikan tidak lagi hanya berlangsung di kelas, tetapi juga di hutan desa, sungai, pesisir, kebun agroforestri, rumah produksi madu, jalur interpretasi ekowisata, dan forum musyawarah desa. Inilah pendidikan yang membumi: pengetahuan yang tumbuh dari tapak, tetapi menjangkau masa depan.

Ketiga, dari sisi standar hidup layak. Masyarakat sekitar hutan tidak cukup diminta menjaga hutan. Mereka harus memperoleh manfaat dari hutan yang dijaga. Di sinilah ekonomi hijau menjadi penting. Perhutanan sosial, RPPEM, KUPS, BUMDes, koperasi desa, dan usaha berbasis lanskap harus digerakkan. Madu hutan, tengkawang, rotan, bambu, tanaman obat, buah hutan, ekowisata, agroforestri, jasa lingkungan, karbon hutan, dan karbon biru dapat menjadi sumber pendapatan baru.

Namun, ekonomi hijau tidak boleh berhenti pada penjualan bahan mentah. Madu tidak cukup dijual curah. Tengkawang tidak cukup dijual sebagai biji. Ekowisata tidak cukup berupa kunjungan sesaat.

Kopi Liberika, CUAN, dan Mimpi Hijau Batu Ampar
Baca Juga

Kopi Liberika, CUAN, dan Mimpi Hijau Batu Ampar

Semua harus naik kelas melalui pengolahan, standardisasi mutu, kemasan, sertifikasi, pemasaran digital, pembiayaan, dan akses pasar. Jika rantai nilai ini dibangun, maka konservasi tidak lagi berhadapan dengan kesejahteraan. Keduanya justru saling menguatkan.

Tentu, semua itu tidak terjadi otomatis. Diperlukan tata kelola yang kuat. Forum Koordinasi Cagar Biosfer harus menjadi ruang kerja, bukan seremoni. KPH harus hadir di tapak.

Perguruan tinggi menjadi dapur ilmu. Perusahaan menjadi mitra tanggung jawab. Desa menjadi pelaku utama. Masyarakat adat dan lokal menjadi penjaga pengetahuan. Pemerintah menjadi pengarah kebijakan dan penghubung sumber daya.

Tantangan terbesarnya adalah menjaga agar manfaat itu tidak berhenti pada elite proyek. Setiap program harus memiliki indikator manusia: berapa keluarga yang pendapatannya naik, berapa anak muda yang dilatih, berapa desa yang bebas api, berapa kelompok usaha yang hidup, berapa perempuan yang terlibat, dan berapa sekolah yang menjadikan lanskap sebagai ruang belajar. Dengan indikator seperti itu, cagar biosfer tidak mengawang sebagai wacana, tetapi membumi sebagai perubahan sosial.

MATA PANDAWA pada akhirnya mengajarkan satu hal: pembangunan manusia tidak dapat dilepaskan dari kesehatan lanskap. Manusia yang sejahtera membutuhkan hutan yang lestari, air yang bersih, udara yang sehat, pengetahuan yang hidup, dan ekonomi yang adil.

Jika MATA PANDAWA hanya menjadi nama di dokumen, ia akan cepat dilupakan. Tetapi jika ia menjadi gerakan bersama, ia dapat mengangkat IPM Kalimantan Barat dari akar yang paling dalam: desa, hutan, sungai, laut, dan manusia. Sebab hutan yang dijaga dengan ilmu dan nurani akan melahirkan manusia yang lebih sehat, lebih cerdas, lebih produktif, dan lebih bermartabat.

Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Gusti Hardiansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura
Ketua ICMI Orwil Kalbar

*Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan interpretasi data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.