Sab, 04/07/26 · 18.20.39
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Lingkungan

Lima Individu Orangutan Kembali ke Rumah Alami Taman Nasional Betung Kerihun

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Sabtu, 4 Juli 2026 · 23:372 menit baca
Lima Individu Orangutan Kembali ke Rumah Alami Taman Nasional Betung Kerihun
Orangutan betina, Jamilah (25 tahun), mendekap erat anaknya, Ulin (1 tahun), saat melangkah keluar dari kandang angkut menuju ruang bebas di Sub-DAS Mendalam, TN Betung Kerihun. (Foto: Dok. BKSDA Kalbar / Balai Besar TNBKDS to Nusantara Post)

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) serta Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS/SOC) resmi melepasliarkan lima individu orangutan hasil rehabilitasi.

Satwa dilindungi tersebut dikembalikan ke habitat alaminya di Sub-DAS Mendalam, Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun, Kapuas Hulu, pada Selasa (30/6/2026).

Kelompok primata endemik yang dilepasliarkan terdiri dari satu individu jantan dan empat betina, yakni Benazir (14 tahun), Jamilah (25 tahun) bersama anaknya Ulin (1 tahun), serta Sinta (13 tahun) beserta anaknya Sabine (2 tahun). Seluruh satwa dipastikan siap secara fisik maupun perilaku setelah melalui proses rehabilitasi intensif bertahun-tahun di Sekolah Hutan Jerora, ditambah pemeriksaan medis serta karantina pra-pelepasliaran selama satu bulan.

“Kembalinya lima individu orangutan ini ke habitat alami mereka di TN Betung Kerihun bukan sekadar akhir dari masa rehabilitasi, melainkan sebuah awal baru bagi penguatan populasi orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) di alam liar,” ujar Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane.

Potensi Kontribusi Calon Cagar Biosfer MATA PANDAWA terhadap Peningkatan IPM Kalimantan Barat
Baca Juga

Potensi Kontribusi Calon Cagar Biosfer MATA PANDAWA terhadap Peningkatan IPM Kalimantan Barat

Aksi lingkungan ini menandai berjalannya program Pelepasliaran Orangutan Tahap ke-18. Sejak jalinan kemitraan strategis ini dimulai pada 2017 hingga Desember 2025, tercatat 17 tahap peluncuran habitat telah berhasil mengembalikan total 39 individu orangutan ke alam liar TN Betung Kerihun. Komposisi subspesies yang berhasil diselamatkan mencakup Pongo pygmaeus pygmaeus dan Pongo pygmaeus wurmbii.

Pemilihan lokasi di Sub-DAS Mendalam bertumpu pada kajian ekologi komprehensif. Hasil analisis menunjukkan tingkat ketersediaan vegetasi pakan orangutan di area tersebut sangat melimpah, mencapai 52% dari total jenis flora yang diidentifikasi, sehingga memiliki daya dukung ruang hidup yang sangat memadai.

Guna menjaga kondisi psikologis satwa pasca-transportasi darat dan air selama 10–12 jam dari Sintang, kawanan orangutan terlebih dahulu ditempatkan di kandang habituasi sebelum dilepas penuh.

Proses pengangkutan kandang satwa pada pelepasliaran orangutan tn betung kerihun tahap delapan belas
Tim gabungan BKSDA Kalbar dan BBTNBKDS saat mengangkut kandang rehabilitasi orangutan menyusuri jalur sungai menuju lokasi pelepasliaran di Sub-DAS Mendalam, TN Betung Kerihun. (Foto: Dok. Balai Besar TNBKDS / BKSDA Kalbar to NusantaraPost)

Pasca-pelepasliaran, pengawasan ketat tetap diberlakukan secara konsisten. Tim pemantau yang berkekuatan 8 hingga 12 personel dikerahkan untuk melakukan monitoring intensif menggunakan metode nest-to-nest selama maksimal tiga bulan.

Memimpin Lanskap, Menyambung Kehidupan: Kolaborasi Koridor Mata Pandawa untuk Masa Depan Kalimantan Barat
Baca Juga

Memimpin Lanskap, Menyambung Kehidupan: Kolaborasi Koridor Mata Pandawa untuk Masa Depan Kalimantan Barat

Metode ini menuntut tim lapangan mengikuti pergerakan orangutan secara konstan, mulai dari saat satwa terbangun di pagi hari hingga kembali membangun sarang tidurnya di sore hari.

Kepala Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum, Titik Wurdiningsih, berharap komitmen pelestarian ini memastikan keberadaan orangutan tetap terjaga bagi generasi mendatang.

“Camp mentibat, Resor PTN Nanga Hovat diharapkan ke depan dapat dikembangkan sebagai pusat riset dan pusat edukasi khususnya terkait Orangutan. Begitupula dengan keindahan alam menuju lokasi pelepasliaran dapat dikembangkan untuk atraksi wisata alam arung jeram” jelas Titik.

Selain fokus pada perlindungan, ia memproyeksikan area strategis seperti Camp Mentibat di Resor PTN Nanga Hovat dapat dikembangkan menjadi pusat riset dan edukasi satwa, berdampingan dengan potensi wisata alam arung jeram di sekitar rute pelepasliaran.

(Rudi)