Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Pemkot Integrasikan Bank Sampah Mini di Sekolah untuk Perluas Tabungan Pelajar

Hendrawan
Hendrawan
Senin, 2 November 2026 · 14:292 menit baca
Pemkot Integrasikan Bank Sampah Mini di Sekolah untuk Perluas Tabungan Pelajar
Pemkot integrasikan bank sampah mini di sekolah untuk memperluas 49.351 tabungan pelajar SimPel sekaligus mengedukasi pemilahan sampah bernilai ekonomi. (Dok. Prokopim Pontianak)

Pemerintah Kota Pontianak mengintegrasikan keberadaan bank sampah mini di sekolah-sekolah guna memperluas jangkauan kepemilikan rekening program Simpanan Pelajar (SimPel) yang kini telah mencatatkan sebanyak 49.351 tabungan siswa.

Langkah kolaboratif tersebut ditempuh untuk membina kebiasaan menabung sejak dini sekaligus memberikan pemahaman mengenai pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi bagi para siswa.

Sosialisasi pelaksanaan program yang melibatkan pihak sekolah, tenaga pendidik, serta jajaran Bank Kalbar tersebut disampaikan oleh Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono usai meninjau SDN 15 Pontianak Selatan.

“Kita juga mengajak sekolah dan para guru untuk meningkatkan akses keuangan bagi pelajar,” kata Edi Rusdi Kamtono, Senin, (2/11/2026).

Gubernur Kalbar Temui Mahasiswa dan Tanggapi Sejumlah Isu Pembangunan Daerah
Baca Juga

Gubernur Kalbar Temui Mahasiswa dan Tanggapi Sejumlah Isu Pembangunan Daerah

Pentingnya pendidikan karakter berbasis disiplin finansial sejak usia sekolah turut digarisbawahi oleh pihak pemerintah daerah.

“Jumlahnya akan terus kita tingkatkan. Kalau bisa semuanya ikut, tidak hanya sekolah negeri, tetapi juga swasta, madrasah, dan pondok-pondok pesantren,” jelas Edi Rusdi Kamtono.

Keterlibatan aktif siswa diawali dengan membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah untuk kemudian ditimbang dan dikonversi menjadi saldo rekening tabungan.

“Kita juga menggalakkan bank sampah mini di sekolah-sekolah. Anak-anak bisa membawa sampah dari rumah, kemudian ditimbang, dinilai, dan hasilnya dimasukkan ke dalam tabungan,” terang Edi Rusdi Kamtono.

Pemkot Pontianak Siapkan 80 Calon Kepala Sekolah Melalui Pelatihan
Baca Juga

Pemkot Pontianak Siapkan 80 Calon Kepala Sekolah Melalui Pelatihan

Penerapan prinsip kehati-hatian dalam penggunaan uang untuk kebutuhan masa depan kembali ditegaskan di akhir pengarahannya.

“Disiplin menabung itu sangat penting. Anak-anak juga harus cerdas menggunakan uang untuk keperluan yang memang dibutuhkan dan untuk masa depan mereka,” tutur Edi Rusdi Kamtono.

Dari total 141 sekolah peserta program Adiwiyata, sebanyak 35 sekolah tercatat telah mengoperasikan fasilitas bank sampah mini yang akan terus dikembangkan secara bertahap.

Mekanisme teknis pengumpulan dan pembelian sampah terpilah dijelaskan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Syarif Usmulyono.

“Ini akan terus kita kembangkan. Anak-anak kita bina terlebih dahulu bagaimana cara memilah sampah, kemudian hasil pilahannya bisa dibawa ke sekolah dan menjadi tabungan mereka,” ungkap Syarif Usmulyono.

SMPN 13 Pontianak Juara Cerdas Cermat Kebangsaan Pemuda Pancasila
Baca Juga

SMPN 13 Pontianak Juara Cerdas Cermat Kebangsaan Pemuda Pancasila

Kerja sama pengolahan sampah dilaksanakan bersama Bank Sampah Rosella untuk menampung hasil pemilahan siswa sebelum dikonversi menjadi saldo rekening SimPel.

“Anak-anak kita ajarkan memilah sampah dari rumah. Setelah dibawa ke sekolah dalam keadaan terpilah, sampah tersebut dibeli melalui Bank Sampah Rosella dan hasilnya dimasukkan ke tabungan mereka,” urai Syarif Usmulyono.

Potensi pemanfaatan daur ulang material plastik menjadi bahan bangunan seperti meja hingga batako turut dipaparkan sebagai bagian dari edukasi pengurangan volume sampah di tempat penampungan sementara.

“Sampah plastik yang sudah dipilah nantinya bisa diolah menjadi bahan yang berguna, seperti meja, batako, dan sebagainya. Jadi bukan hanya dikumpulkan, tetapi juga bisa dimanfaatkan kembali,” sebut Syarif Usmulyono.

Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan secara mandiri sejak usia dini diharapkan dapat terbangun secara konsisten hingga para siswa tumbuh dewasa.

“Kita berharap sejak usia dini anak-anak sudah sadar terhadap sampahnya sendiri,” ucap Syarif Usmulyono.

Pendampingan berkelanjutan dari instansi terkait dipastikan terus berjalan agar pengoperasian bank sampah mini mampu merubah perilaku siswa secara permanen.

Dua Direksi BPR di Malang Jadi Tersangka, OJK Serahkan ke Jaksa atas Dugaan Kredit Fiktif dan Kas Bon Tak Tercatat
Baca Juga

Dua Direksi BPR di Malang Jadi Tersangka, OJK Serahkan ke Jaksa atas Dugaan Kredit Fiktif dan Kas Bon Tak Tercatat

“Yang ingin kita bangun adalah kesadaran sejak dini. Anak-anak terbiasa memilah sampah, memahami manfaatnya, sekaligus mendapatkan nilai ekonomi. Harapannya, kebiasaan ini terus terbawa sampai mereka dewasa,” pungkas Syarif Usmulyono.

(Hendrawan)