Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Gemawan Latih 55 Pemuda Untuk Mengawal Isu Demokrasi dan Lingkungan Melalui RE:MAKING SOCIETY

Hendrawan
Hendrawan
Sabtu, 31 Oktober 2026 · 08:062 menit baca
Gemawan Latih 55 Pemuda Untuk Mengawal Isu Demokrasi dan Lingkungan Melalui RE:MAKING SOCIETY
Perkumpulan Gemawan melatih 55 pemuda Kalimantan dalam program RE:MAKING SOCIETY untuk mengawal isu demokrasi, hak asasi manusia, dan keadilan lingkungan. (Dok. Gemawan)

Sebanyak 55 orang muda dari berbagai latar belakang dilibatkan secara aktif dalam program kelas RE:MAKING SOCIETY: Social Innovators for Democracy, Human Rights dan Environmental Justice yang diinisiasi oleh Perkumpulan Gemawan. Rangkaian kegiatan yang dibagi ke dalam dua gelombang (batch) ini berlangsung selama dua hari berturut-turut pada 16–17 dan 23–24 Oktober 2026, sebagai bagian dari kerangka kerja Indonesia Civil Society Forum (ICSF) Kalimantan.

Program ini dirancang secara khusus untuk menjawab krisis berlapis yang tengah melanda Pulau Kalimantan, mulai dari penyempitan ruang partisipasi demokrasi, ancaman pelanggaran hak asasi manusia (HAM), ekspansi industri ekstraktif, konflik agraria, hingga kerusakan ekologis dan darurat iklim yang berulang.

Koordinator Training and Learning Center Gemawan, Arni, menegaskan bahwa pelaksanaan kelas ini berakar dari urgensi merawat gerakan masyarakat sipil di tengah ancaman penyempitan ruang demokrasi (civic space) yang kian mengkhawatirkan. Menurutnya, jurang pemisah antargenerasi harus dijembatani agar kaum muda tidak kehilangan pijakan teoretis dalam merumuskan gagasan perubahan sosial.

“Kenapa ini dibuat? Karena kami berefleksi bahwa ruang belajar dan mengakar penting untuk dilakukan sebagai upaya merawat gerakan hari ini. Di tengah ancaman ruang demokrasi yang semakin menyempit, namun ruang gap generasi harus terus diisi. Bagi kami, menyelenggarakan kelas ini merupakan pemantik untuk orang muda kembali pada teori dan prinsip agar dapat meramu gagasan baru,” ungkap Arni, Kamis (29/10/2026).

Sempat Viral Video Candaan Presiden Prabowo di Sidang Tahunan MPR RI Soal Pacaran Siswi 10 Tahun, KPAID Kubu Raya Buka Suara
Baca Juga

Sempat Viral Video Candaan Presiden Prabowo di Sidang Tahunan MPR RI Soal Pacaran Siswi 10 Tahun, KPAID Kubu Raya Buka Suara

Ia berharap puluhan peserta yang telah digembleng selama pelatihan dapat bertransformasi menjadi inovator sosial yang berani merebut ruang-ruang strategis penentu masa depan bangsa.

“Kami berharap 55 orang muda yang sudah ikut menjadi inovator sosial, dapat merebut ruang yang sebenarnya adalah milik kita. Kita orang muda merupakan penentu dari masa depan,” lanjut Arni.

Dari sudut pandang peserta, materi ekologi politik dan pembacaan sejarah kolonialisme perkebunan sawit memberikan cara pandang baru yang lebih radikal dalam membedah akar persoalan lingkungan di Kalimantan. Ovy, salah satu peserta, menyoroti bagaimana ketimpangan tata kelola dan lemahnya penegakan hukum pemerintah memperburuk krisis ekologis daerah.

“Sesi ekologi politik di hari kedua menjadi pengalaman yang menarik. Aku senang bisa memahami Kalbar melalui perspektif historis, terutama terkait ekspansi perkebunan sawit dan jejak kolonialisme. Sebagai pembelajar sosiologi, perspektif ini memperkaya caraku melihat persoalan lingkungan. Di satu sisi, secara tidak langsung kita juga sedang mendekolonisasi, membedah pengetahuan dari efek kolonialisme,” ujar Ovy.

Soroti Absennya Negara, Fatayat NU Kubu Raya Dorong Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual
Baca Juga

Soroti Absennya Negara, Fatayat NU Kubu Raya Dorong Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

Melalui kurikulum komprehensif yang membedah relasi kuasa, ekologi politik, hingga ancaman otoritarianisme, Gemawan optimistis ruang-ruang perjumpaan kritis ini mampu melahirkan jejaring kolaborasi lintas wilayah untuk mengawal keadilan ekologis dan perlindungan hak-hak warga di masa depan.

(Hendrawan)