Min, 12/07/26 · 15.38.01
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Tampil Tari Solo di Temu Karya Daerah, Laura Siswi SLB C Dharma Asih Dobrak Stigma Disabilitas Harap Ruang Inklusivitas

Hendrawan
Hendrawan
Minggu, 12 Juli 2026 · 21:061 menit baca
Tampil Tari Solo di Temu Karya Daerah, Laura Siswi SLB C Dharma Asih Dobrak Stigma Disabilitas Harap Ruang Inklusivitas
Laura, siswi SLB C Dharma Asih tampilkan tari solo pada TKD Karang Taruna Kalbar. Pendamping Dede desak pemerintah wujudkan ruang inklusivitas nyata. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Aspek pemenuhan hak kesetaraan bagi penyandang disabilitas di ruang publik menjadi sorotan di tengah agenda konsolidasi kepemudaan daerah. Laura, seorang siswi kelas 10 Sekolah Luar Biasa (SLB) C Dharma Asih, menampilkan tarian tunggal sebagai bentuk demonstrasi kemampuan seni visual pada panggung Temu Karya Daerah (TKD) Karang Taruna Kalimantan Barat, Minggu, 12 Juli 2026.

Meski hanya memiliki waktu persiapan teknis kurang dari 24 jam, penampilan tersebut difungsikan sebagai desakan nyata terhadap minimnya akses, wadah apresiasi, dan ruang eksistensi bagi kaum disabilitas di tingkat regional.

Pendamping perwakilan sekolah, Dede memaparkan bahwa pelibatan aktif siswa SLB dalam agenda formal berskala provinsi merupakan langkah taktis untuk memotong stigma negatif di masyarakat. Otoritas sekolah menyoroti ketimpangan fasilitas pendukung bakat yang masih dialami anak-anak berkebutuhan khusus, terutama di kawasan pelosok.

“Kami berharap Karang Taruna menjadi wadah yang lebih inklusif. Mereka memiliki keistimewaan yang tidak boleh terisolasi hanya karena perbedaan kondisi fisik,” ujar Dede.

Nakhoda Baru Karang Taruna Kalbar, Muhammad Farizi Prioritaskan Kolaborasi Hingga Tingkat Kelurahan
Baca Juga

Nakhoda Baru Karang Taruna Kalbar, Muhammad Farizi Prioritaskan Kolaborasi Hingga Tingkat Kelurahan

Desakan Perubahan Paradigma dan Aksesibilitas Fasilitas Publik
Dede menegaskan, kehadiran Laura di atas panggung bukan sekadar pengisi acara seremonial, melainkan seruan terbuka kepada pemerintah daerah dan organisasi kepemudaan untuk mengubah paradigma advokasi sosial.

Pihak lembaga pendidikan mendesak agar komitmen inklusivitas diwujudkan melalui kebijakan konkret di lapangan, bukan sekadar menjadi slogan dalam dokumen administratif daerah.

Melalui penampilan ini, Karang Taruna dituntut menjadi garda terdepan dalam merumuskan program kerja yang mampu merangkul potensi pemuda dari kalangan rentan agar talenta mereka tidak terkubur akibat keterbatasan aksesibilitas infrastruktur dan sosial.

(Hendrawan)