Tiga hari berturut-turut, dari Selasa hingga Kamis (28–30 April 2026), lima sekolah di wilayah Penajam Paser Utara kedatangan tamu yang tidak biasa. Bukan guru baru, bukan pejabat untuk upacara melainkan tim dari Otorita IKN, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, dan BKKBN Kalimantan Timur yang datang khusus untuk ngobrol soal stunting dan kesehatan reproduksi bersama sekitar 600 pelajar.
Kelima sekolah itu SMP Muhammadiyah 1 PPU, SMKN 1 PPU, SMPN 27 PPU, SMAN 3 PPU, dan SMPN 2 PPU semuanya berada di kawasan delineasi IKN. Bukan kebetulan.
Otorita IKN memang menyasar wilayah ini secara khusus, karena generasi yang tumbuh di sini kelak akan menjadi bagian langsung dari ibu kota baru Indonesia.
Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan program insidental. Ini bagian dari strategi besar membangun SDM Nusantara dari akar paling awal.
Baca Juga Komisi VII DPR RI: Jangan Sampai UMKM Tak Ada Ruang di IKN
“Kualitas generasi bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana generasi muda hari ini memahami dan mempersiapkan masa depannya, termasuk dalam membentuk keluarga yang sehat dan berkualitas,” ujarnya.
Alimuddin juga mengungkap bahwa Otorita IKN tengah merancang sistem pendidikan yang melampaui kurikulum akademik biasa termasuk program pengembangan soft skills, sertifikasi berbasis minat dan bakat, hingga penyediaan beasiswa untuk bidang-bidang strategis seperti arsitektur dan teknik sipil.
“IKN ke depan akan menjadi kota pendidikan dengan ekosistem pembelajaran terintegrasi,” katanya.
Di lapangan, intervensi yang dilakukan cukup menyeluruh. Direktur Pelayanan Dasar Otorita IKN, Suwito, menjelaskan bahwa program pencegahan stunting yang sudah berjalan mencakup penyuluhan gizi dan pemberian makanan tinggi protein bagi keluarga berisiko, pendampingan langsung ke rumah tangga, hingga distribusi tablet zat besi (Fe) bagi remaja sekolah dan calon pengantin untuk mencegah anemia.
Baca Juga Cetak Sejarah Baru, 191 Siswa Angkatan Perdana SMA Taruna Nusantara Tiba di IKN
Soal mengapa remaja SMP dan SMA menjadi sasaran, Suwito punya alasan yang cukup jauh ke depan.
“Pembangunan IKN hingga 40 tahun ke depan akan diisi oleh generasi muda saat ini. Dan 100 tahun ke depan, oleh generasi yang dilahirkan mereka,” ujarnya. “Jadi kesehatan reproduksi bukan sekadar materi pelajaran ini investasi jangka panjang.”
Respons dari para pelajar ternyata cukup antusias. Nur Ayatul Husna, siswa SMAN 3 PPU, mengaku mendapat banyak pemahaman baru dari sesi sosialisasi.
“Sosialisasinya seru dan menambah pengetahuan baru. Tadi kami belajar tentang anak yang stunting itu seperti apa dan cara mencegahnya,” katanya.
Rekannya, Erik, juga merasa mendapat wawasan yang selama ini luput dari perhatiannya. “Banyak hal yang kami sebelumnya tidak tahu, jadi tahu. Saya belajar bahwa reproduksi itu harus dijaga,” ujarnya.
Wakil Kepala Sekolah SMPN 2 PPU, Sahram, turut menyambut baik kehadiran program ini. Ia berharap momentum ini bisa benar-benar dimanfaatkan oleh para siswa sebagai bekal perjalanan menuju masa depan yang lebih baik.
Baca Juga Pakar Silvikultur Tropika Untan Paparkan Metode Pemulihan Tanah Kritis dan Pemilihan Vegetasi di IKN
Otorita IKN menegaskan bahwa pembangunan Nusantara tidak bisa hanya dilihat dari gedung-gedung yang berdiri atau jalan yang terbentang. Kualitas manusia yang akan menghuni dan mengelola kota itu sama pentingnya bahkan harus disiapkan lebih dulu.
Program seperti ini, yang menyentuh langsung kehidupan remaja di sekitar kawasan IKN, adalah salah satu cara Otorita IKN membangun fondasi sosial yang tidak terlihat di foto udara, tapi terasa dampaknya jauh ke depan.
(Rld)