Sen, 13/07/26 · 11.44.22
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

Gunungapi Karangetang Erupsi, Luncurkan Aliran Lava Sejauh Seribu Meter

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Senin, 13 Juli 2026 · 17:182 menit baca
Gunungapi Karangetang Erupsi, Luncurkan Aliran Lava Sejauh Seribu Meter
Gunungapi Karangetang di Sitaro Sulawesi Utara mengalami erupsi magmatik strombolian. PVMBG tetapkan status Level II Waspada dan batas radius bahaya. (Dok. PVMBG)

Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, dilaporkan mengalami erupsi magmatik. Otoritas vulkanologi mendeteksi adanya muntahan aliran lava pijar yang meluncur hingga jarak 1.000 meter dari pusat aktivitas kawah utara.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, fase erupsi tersebut terjadi pada Minggu, (12/7/2026) pukul 19.14 WITA.

Gejala awal ditandai dengan letusan bertipe strombolian atau eksplosif lemah yang melontarkan material pijar setinggi 100 meter di atas puncak, diikuti suara dentuman keras. Tekanan gas memicu erupsi efusif berupa lelehan lava ke tiga sektor utama, yakni sejauh 1.000 meter ke arah utara, 400 meter ke barat-barat daya, dan 1.000 meter ke arah selatan.

Lontaran material panas sempat memicu kebakaran vegetasi ilalang di sekitar puncak gunung. Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sitaro mengonfirmasi bahwa kebakaran vegetasi tersebut telah dapat dikendalikan pada Senin, (13/7/2026) pagi, dan aktivitas harian warga tetap berjalan normal di bawah pengawasan ketat.

BNPB Catat Tren Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Wilayah per Juni 2026
Baca Juga

BNPB Catat Tren Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Wilayah per Juni 2026

Rekam Jejak Kegempaan dan Pembatasan Zona Bahaya Sektoral
PVMBG menyatakan bahwa status aktivitas Gunungapi Karangetang saat ini masih dipertahankan pada Level II atau Waspada, yang posisinya tidak berubah sejak ditetapkan pada 11 Januari 2025.

Peningkatan aktivitas vulkanik sebenarnya telah terdeteksi sejak awal Juli 2026. Sepanjang periode 1 hingga 11 Juli 2026, instrumen pos pengamatan merekam dinamika kegempaan yang masif, meliputi 12 kali Gempa Guguran, 83 kali Gempa Hembusan, 7 kali Tremor Harmonik, 32 kali Tremor Non-Harmonik, 10 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak, 41 kali Gempa Vulkanik Dangkal, 21 kali Gempa Vulkanik Dalam, 3 kali Gempa Tektonik Lokal, 4 kali Gempa Terasa pada skala I – III MMI, dan 127 kali Gempa Tektonik Jauh.

Merespons potensi ancaman runtuhan kubah lava dan awan panas guguran, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menginstruksikan sterilisasi kawasan rawan bencana secara total.

“Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah selatan barat daya sejauh 2.5 km,” tulis rekomendasi resmi BNPB.

Sinergi Pusat-Daerah: Infrastruktur Kedaruratan Pangandaran Diperkuat
Baca Juga

Sinergi Pusat-Daerah: Infrastruktur Kedaruratan Pangandaran Diperkuat

Selain ancaman langsung material primer letusan, kedeputian darurat mewaspadai potensi sekunder berupa banjir lahar dingin di sepanjang sungai yang berhulu di puncak gunung seiring tingginya curah hujan di wilayah kepulauan tersebut.

“Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai. Waspadai pula guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan barat daya,” tegas otoritas penanggulangan bencana.

(Rudi)