Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi penanganan bencana di Indonesia periode Rabu hingga Kamis pekan ini. Berdasarkan data yang dihimpun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mendominasi kejadian di berbagai daerah, di samping bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh cuaca ekstrem.
Berikut adalah rincian peta bencana baru dan situasi penanganan karhutla nasional di sejumlah wilayah:
Angin Kencang di Aceh Utara Merusak Puluhan Huntara
Bencana angin kencang melanda Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Dampak cuaca ekstrem ini merusak lima puluh delapan unit rumah hunian sementara (huntara) dan berdampak langsung pada lima puluh delapan kepala keluarga.
Wilayah terdampak tersebar di empat gampong (desa), dengan rincian kerusakan sebagai berikut:
Laporan Kebencanaan Nasional: Cuaca Ekstrem dan Banjir Bandang Landa Sejumlah Daerah
-
Gampong Rumoh Rayeuk: Sebelas huntara rusak berat, dua puluh rusak sedang, dan lima rusak ringan.
-
Gampong Geudumbak: Empat huntara rusak berat, empat rusak sedang, dan dua rusak ringan.
-
Gampong Langkahan: Lima unit huntara mengalami rusak ringan.
-
Gampong Buket Linteung: Tujuh unit huntara rusak berat serta satu fasilitas umum ikut terdampak.
Profil Nanik S. Deyang: Kepala Baru Badan Gizi Nasional yang Lagi-Lagi Bukan dari Ahli Gizi
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara masih berada dalam masa transisi darurat ke pemulihan yang berlaku hingga Juli mendatang.

Banjir di Halmahera Tengah Paksa Warga Mengungsi
Hujan dengan intensitas tinggi memicu banjir di Kecamatan Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Banjir merendam seratus lima puluh unit rumah yang dihuni oleh seratus lima puluh kepala keluarga, serta memaksa sepuluh jiwa mengungsi. Desa yang terdampak meliputi Ake Ici, Fidi Jaya, Wedana, dan Nurweda. BPBD setempat bersama Dinas PU melakukan penanganan darurat berupa normalisasi drainase untuk mempercepat surutnya genangan di wilayah kota.
Pemutakhiran Data Penanganan Karhutla Nasional
Selain kejadian baru akibat cuaca ekstrem, BNPB juga memperbarui data penanganan kebakaran hutan dan lahan di beberapa provinsi:
-
Provinsi Riau: Total luas lahan terbakar sejak awal tahun telah mencapai lima belas ribu tiga ratus tujuh koma enam puluh tiga hektare. Terbaru, terjadi penambahan luasan kebakaran satu hektare di Rokan Hulu dan lima hektare di Bengkalis. Status siaga darurat di Riau masih berlaku hingga November mendatang.
-
Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Barat: Di Nagan Raya, luas lahan terbakar mencapai sembilan puluh hektare, di mana delapan puluh hektare di antaranya berhasil dipadamkan. Sementara di Aceh Barat, kebakaran lahan mencapai dua puluh empat koma satu hektare dengan titik api tersisa di Kecamatan Bubon.
-
Kalimantan Tengah: Akumulasi lahan terbakar mencapai empat ratus empat puluh delapan koma nol lima hektare, termasuk penambahan nol koma sebelas hektare di wilayah Kota Palangka Raya. Pemerintah daerah setempat memberlakukan status siaga darurat karhutla hingga pertengahan bulan ini.
-
Lombok Timur: Kebakaran lahan seluas sembilan puluh delapan koma dua puluh delapan hektare dilaporkan telah berhasil dipadamkan sepenuhnya oleh BPBD setempat dan kondisi lapangan kini dinyatakan kondusif.
Gugatan Usulan Polri di Bawah Kementerian Resmi Dicabut
Imbauan Resmi BNPB
Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami cuaca panas disertai angin kencang, sementara sebagian wilayah lainnya berpotensi hujan lebat. Merespons dinamika cuaca tersebut, BNPB mengeluarkan penegasan dan imbauan kepada pemerintah daerah serta masyarakat:
“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bencana. Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan, selalu memantau informasi resmi dari pemerintah dan BPBD setempat, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau potensi ancaman bencana di lingkungan sekitarnya. Pemerintah daerah juga diharapkan memastikan kesiapan personel, peralatan, serta langkah-langkah mitigasi, khususnya di wilayah yang memasuki musim kemarau dan rawan kebakaran hutan dan lahan. Kesiapsiagaan, deteksi dini, dan respons cepat seluruh unsur merupakan kunci utama untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana,” imbaunya.
(Dayank Ana)
