Rab, 08/07/26 · 05.30.32
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

Redam Gas Metana, Empat Helikopter Water Bombing Dikerahkan di Kebakaran TPA Jatiwaringin

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Rabu, 8 Juli 2026 · 11:352 menit baca
Redam Gas Metana, Empat Helikopter Water Bombing Dikerahkan di Kebakaran TPA Jatiwaringin
Tim gabungan kerahkan 4 helikopter water bombing untuk meredam produksi gas metana di bawah permukaan sampah TPA Jatiwaringin Tangerang. Progres capai 49%. (Dok. BNPB)

Operasi pemadaman kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, memasuki fase kritis pada hari ketujuh, Selasa (7/7/2026). Tim gabungan lintas sektor kini mengalihkan fokus strategi ke tahap pendinginan bawah permukaan guna meredam produksi gas metana (methane) berbahaya yang memicu kepulan asap pekat dari dalam gunungan sampah.

Hingga pembaharuan data taktis di lapangan, akumulasi penanganan diklaim baru menyentuh angka 49 persen. Sulitnya medan dan keberadaan bara api yang terisolasi di area ketinggian membuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meluncurkan operasi udara masif untuk memitigasi sebaran polusi udara yang mulai mengancam permukiman luar.

“Kolaborasi dari seluruh instansi yang ada ini ada kemajuan-kemajuan. Saat ini sudah mencapai 49 persen dan kita terus fokuskan untuk pendinginan,” ujar Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Djohan Darmawan.

TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB Kirim Helikopter dari Jambi
Baca Juga

TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB Kirim Helikopter dari Jambi

Kombinasi Cairan Kimia Khusus dan Jalur Udara
Untuk menjangkau titik api yang berada di luar jangkauan selang armada darat, otoritas kebencanaan mengintegrasikan jalur logistik udara dengan menyiagakan alat utama sistem persenjataan damkar udara. Di sektor bawah, petugas terpaksa membelah tumpukan sampah untuk membuat akses jalan baru di sisi utara dan selatan kompleks pembuangan.

Selain itu, tim pemadam membuat penampungan air buatan (embung) darurat guna menyuplai 6 hingga 8 lajur pipa selang, sekaligus menyuntikkan cairan kimia khusus untuk memutus sirkulasi panas bumi di bawah material sampah.

“Kendala-kendala kita sudah mendatangkan empat helikopter water bombing untuk menanggulangi sektor-sektor yang tidak bisa disentuh oleh pemadam kebakaran. Jadi kita siram melalui udara. Dari bawah ini kita berjalan, dari atas pun disiram juga untuk pendinginan mematikan api ini,” jelas Djohan Darmawan perihal taktik penanganan api dari dua lini.

Dampak El Nino Meluas, Puluhan Ribu Warga di Empat Provinsi Krisis Air Bersih
Baca Juga

Dampak El Nino Meluas, Puluhan Ribu Warga di Empat Provinsi Krisis Air Bersih

Ancaman Asap Bawah Tanah dan Hambatan Rekayasa Cuaca
Meskipun kobaran api terbuka di permukaan tanah berhasil diredam, instrumen deteksi geotermal mengonfirmasi adanya akumulasi energi panas ekstrem di lapisan dalam TPA. Tumpukan sampah yang membusuk dilaporkan terus memproduksi gas yang memicu bara api tetap menyala secara laten di bawah tanah.

“Saat ini api itu di permukaan tidak kelihatan, namun adanya asap yang keluar dari dalam tumpukan sampah. Dimungkinkan di dalamnya itu ada sumber panas karena mengandung gas,” urai Djohan Darmawan mengenai potensi bahaya gas tersebut.

Mengenai opsi percepatan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan, pemerintah mengaku mengalami hambatan meteorologis yang signifikan. Koordinasi bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyimpulkan bahwa kelembapan dan pertumbuhan awan potensial di langit Tangerang saat ini masih terlalu minim untuk dilakukan penyemaian garam.

BNPB menegaskan penanganan manual lewat darat dan udara akan terus dipacu secara konstan sembari menunggu dinamika atmosfer memenuhi syarat regulasi penerbangan OMC.

(Rudi)