Sab, 18/07/26 · 04.34.54
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

Sentimen Global Tekan Mata Uang Domestik, Rupiah Jatuh ke Titik Terendah Sepanjang Sejarah

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Sabtu, 30 Mei 2026 · 16:382 menit baca
Sentimen Global Tekan Mata Uang Domestik, Rupiah Jatuh ke Titik Terendah Sepanjang Sejarah
Nilai tukar rupiah ambles ke level terendah dalam sejarah di angka Rp17.874/US$. Tekanan global dan kebutuhan musiman valas jadi pemicu utama kejatuhan. (Dok. Ist)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke posisi Rp17.874 pada penutupan perdagangan Jumat, (29/5/2026). Angka tersebut menjadi level terlemah mata uang Indonesia sepanjang sejarah setelah mengalami depresiasi sebesar 2,91 persen sepanjang Mei 2026, sekaligus menandai pelemahan selama tiga bulan berturut-turut.

Secara akumulatif, tekanan terhadap mata uang domestik sejak awal kuartal II-2026 telah menggerus nilai rupiah hingga mencapai 4,92 persen. Kondisi ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terlemah di Asia sepanjang bulan Mei, melampaui won Korea Selatan yang melemah 2,1 persen dan yen Jepang sebesar 1,67 persen.

Tekanan Konflik Global dan Siklus Musiman

Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa kejatuhan nilai tukar rupiah ini sangat dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Di saat yang sama, pasar domestik tengah mengalami lonjakan kebutuhan valuta asing (valas) secara musiman.

Kebutuhan dolar AS yang tinggi tersebut utamanya digunakan oleh korporasi untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) serta repatriasi dividen, di tengah kondisi arus masuk modal asing yang masih sangat terbatas.

Tertibkan Administrasi Nasional, PWI Pusat Sosialisasikan Lima Peraturan Organisasi Baru
Baca Juga

Tertibkan Administrasi Nasional, PWI Pusat Sosialisasikan Lima Peraturan Organisasi Baru

Meskipun sentimen investor global sempat membaik menyusul kesepakatan gencatan senjata sementara selama 60 hari dalam konflik AS-Iran yang meredakan ketegangan di Selat Hormuz, dampaknya tidak merata di Asia. Ketika beberapa mata uang regional seperti baht Thailand, ringgit Malaysia, dan rupee India berhasil berbalik menguat (rebound), rupiah bersama won Korea Selatan dan dolar Singapura justru mencatatkan pelemahan terdalam pada sesi akhir pekan ini.

Pembatasan Transaksi Valas Mulai Juni

Merespons kejatuhan yang terus berlanjut, BI mengambil langkah intervensi guna menahan laju pelemahan dan mengendalikan tingginya permintaan dolar AS di dalam negeri. Mulai Juni 2026, otoritas moneter akan memberlakukan batasan (threshold) ketat untuk transaksi tunai beli valas terhadap rupiah tanpa dokumen dasar atau underlying transaction.

Masyarakat maupun pelaku usaha hanya diizinkan membeli valas tanpa underlying maksimal sebesar US$25.000 per pelaku per bulan. Langkah pembatasan ini diambil untuk menekan aktivitas spekulasi yang dapat memperparah volatilitas nilai tukar.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa bank sentral berkomitmen penuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui bauran kebijakan moneter dan penguatan intervensi pasar yang terukur.

Resmi Terima Surat Kuasa, Hotman Paris Resmi Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Dalam Dugaan Korupsi
Baca Juga

Resmi Terima Surat Kuasa, Hotman Paris Resmi Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Dalam Dugaan Korupsi

“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi,” jelas Denny dalam keterangan resminya.

Selain memperketat regulasi pembelian dolar AS, BI mengoptimalkan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri (offshore), transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Otoritas juga secara konsisten melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang ramah pasar (pro-market) demi mempertahankan daya tarik aset keuangan Indonesia bagi pemodal asing.

(Dayank Ana)