Bandara VVIP IKN dengan runway sepanjang 3.000 meter membentang di tengah kawasan Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Proyek senilai miliaran rupiah ini kini diguncang temuan kelebihan bayar oleh BPK sebesar Rp2,18 miliar. (Dok. Brantas Abipraya)
Belum lagi menuai manfaat dari sebuah proyek besar bernama Bandara VVIP IKN, proyek yang menjadi bagian proyek mercusuar Ibu Kota Nusantara (IKN) ini diguncang temuan penyimpangan keuangan oleh Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK), negara diklaim melakukan kelebihan bayar hingga Rp2,18 Miliar.
Proyek itu melingkupi pembangunan fasilitas sisi darat Bandara VVIP IKN tahun anggaran 2023–2024. BPK menemukan adanya pembayaran pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi teknis kontrak, namun tetap diterima dan difungsikan.
BPK mengungkap sembilan item pekerjaan mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP) serta tiga item pekerjaan arsitektur tidak dikerjakan sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan dalam kontrak.
Nilai pembayaran atas pekerjaan tersebut mencapai Rp3,88 miliar. Namun berdasarkan dokumen pengadaan barang dari subkontraktor dan vendor, nilai riil pekerjaan hanya sekitar Rp1,70 miliar.
Selisih keduanya memunculkan kelebihan pembayaran negara sebesar Rp2,18 miliar. Ironisnya, pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi itu tetap dipasang dan digunakan karena dinilai “masih dapat berfungsi”.
BPK menegaskan, spesifikasi teknis merupakan dasar utama dalam kontrak pekerjaan konstruksi. Dokumen tersebut telah disusun sejak tahap perencanaan dan menjadi acuan wajib bagi penyedia jasa dalam melaksanakan proyek.
Foto udara Bandara VVIP IKN di Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Bandara yang dibangun di atas lahan 621 hektare ini kini menjadi sorotan setelah BPK menemukan kelebihan pembayaran negara sebesar Rp2,18 miliar dalam proyek fasilitas sisi daratnya. (Dok. Brantas Abipraya)
Sementara itu dalam website resminya, pihak kontraktor PT Brantas Abipraya(Persero) menegaskan peran strategisnya dengan mengambil bagian penting dalam pembangunan Bandara Very Very Important Person (VVIP). Mulai dibangun pada tahun 2023.
Bandara VVIP IKN menjadi infrastruktur vital untuk konektivitas pejabat tinggi negara dan tamu kenegaraan yang akan melakukan aktivitas pemerintahan di IKN, dan nantinya pun dapat diharapkan dapat digunakan untuk masyarakat umum juga.
Terletak di Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, bandara yang pembangunannya sinergi Brantas Abipraya bersama BUMN konstruksi lainnya ini berdiri di atas lahan seluas 621 hektare dan dilengkapi dengan fasilitas kelas dunia untuk mendukung operasional yang cepat, aman, dan efisien.
“Pembangunan Bandara VVIP ini mencakup runway sepanjang 3.000 meter dengan lebar 45 meter, apron seluas 102.150 meter persegi, dua taxiway masing-masing 180 x 30 meter, serta terminal VIP dan VVIP seluas total 7.350 meter persegi. Dengan spesifikasi tersebut, bandara ini mampu melayani pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777-200 ER dan Airbus A380, sekaligus menghadirkan efisiensi dan keamanan tingkat tinggi bagi pergerakan pejabat negara,” ujar Dian Sovana, Sekretaris Perusahaan Brantas Abipraya.
Dilansir dari inilah.com, Dahlan Iskan yang Mantan Menteri BUMN era SBY itu menyoroti secara umum proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) warisan era Presiden Joko Widodo (Jokowi) dari sisi efisiensi ekonomi.
Ruang tunggu terminal VVIP Bandara IKN yang tampak mewah dan modern dengan furnitur berkelas. Di balik kemewahan fasilitas ini, BPK menemukan sejumlah pekerjaan mekanikal, elektrikal, dan plumbing yang tidak sesuai spesifikasi kontrak namun tetap difungsikan, mengakibatkan kelebihan pembayaran negara sebesar Rp2,18 miliar. (Dok. Humas Otorita IKN)
Menurut Dahlan, anggaran yang sudah digelontorkan ke proyek mercusuar tersebut mencapai sekitar Rp147 triliun. Namun, manfaat nyata yang dirasakan hingga kini dinilai belum jelas.
“Kita mengeluarkan sekian ratus triliun di IKN, kita dapat apa? Akan dapat apa? Belum dapat apa-apa lho,” kata Dahlan,Minggu (17/5/2026).
Ia menilai proyek IKN mencerminkan lemahnya prinsip ekonomi investasi, khususnya terkait ICOR (Incremental Capital Output Ratio), yakni perbandingan antara investasi yang dikeluarkan dengan hasil ekonomi yang diperoleh.
Dahlan menilai Indonesia terlalu sering membangun proyek besar tanpa perhitungan manfaat jangka panjang yang matang. Salah satu yang disorotinya adalah pembangunan Bandara VVIP IKN atau Bandara Nusantara.