Keterhubungan sebuah kota dengan dunia tidak selalu ditandai oleh bandara internasional, gedung pencakar langit, pusat keuangan, atau kantor perusahaan multinasional. Pontianak punya cerita berbeda. Jauh sebelum globalisasi menjadi percakapan sehari-hari, kota ini telah terhubung dengan berbagai kawasan melalui sungai, perdagangan, migrasi, dan perjumpaan manusia. Jejaknya masih dapat dibaca pada nama-nama kampung, kehidupan di tepian sungai, pasar, pelabuhan, dan keragaman masyarakatnya.
Kampung Arab, Kampung Saigon, Kampung Kamboja, Kampung Bangka, Kampung Bugis, Kampung Banjar, Kampung Jawa, hingga Kampung Kuantan menyimpan ingatan tentang perjalanan manusia yang ikut membentuk kota. Mereka datang dari berbagai tempat, membawa bahasa, agama, pengetahuan, keterampilan, dan tradisi. Sebagian menetap, membangun keluarga, dan menjadi bagian dari masyarakat setempat. Sebagian lainnya menghubungkan Pontianak dengan jaringan perdagangan dan kehidupan sosial di kawasan lain.
Pontianak bukan sekadar tempat orang datang dan menetap. Kota ini berkembang melalui hubungan perdagangan, perkawinan, agama, keluarga, dan kekuasaan yang melampaui batas wilayah. Keterhubungan tersebut ikut membentuk identitas kota hingga sekarang.
Dalam kajian sosial, kosmopolitanisme tidak cukup dimaknai sebagai keberadaan banyak kelompok etnis dan agama. Pnina Werbner mengingatkan bahwa keberagaman merupakan kondisi sosial, sedangkan kosmopolitanisme berkaitan dengan praktik hidup bersama di tengah perbedaan. Ulf Hannerz juga menekankan keterbukaan terhadap berbagai kebudayaan tanpa harus kehilangan akar sendiri.
Baca Juga ICMI Kalbar Dorong Desa Cendekia, Kolaborasi Lintas Sektor, dan Penguatan SDM
Dari perspektif ini, keterhubungan Pontianak dengan dunia tidak hanya dapat ditelusuri melalui jalur perdagangan dan migrasi. Hal itu juga terlihat dari cara berbagai kelompok membangun hubungan, berbagi ruang hidup, dan membentuk masyarakat kota.
Pemerintah Kota Pontianak mencatat 23 Oktober 1771 sebagai tanggal berdirinya kota ini. Syarif Abdurrahman Alqadrie membuka permukiman di persimpangan Sungai Landak, Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas. Dalam perkembangannya, Pontianak tumbuh sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak sekaligus kota perdagangan dan pelabuhan.
Letak geografis tersebut memberi Pontianak posisi penting dalam jaringan pergerakan manusia dan barang. Ketika jaringan jalan darat modern belum berkembang, sungai menjadi jalur utama yang menghubungkan permukiman, pusat pemerintahan, kawasan pedalaman, dan wilayah pesisir. Kapal dan perahu membawa komoditas, berita, bahasa, agama, pengetahuan, serta hubungan politik.
Sungai Kapuas, dengan demikian, bukan sekadar bentang alam yang membelah kota. Sungai menjadi penghubung antara Pontianak dan kawasan yang lebih luas. Melalui jalur inilah kehidupan ekonomi dan sosial kota bertaut dengan berbagai komunitas di sepanjang aliran sungai hingga wilayah pesisir.
Baca Juga Pontianak Raih TPAKD Award 2026 Terbaik Tingkat Kota Wilayah Kalimantan
Keluarga Alqadrie sendiri terhubung dengan jaringan Melayu, Banjar, dan Bugis. Perkawinan serta hubungan politik mempertautkan keluarga kesultanan dengan pusat-pusat kekuasaan lain di Kalimantan Barat dan kawasan sekitarnya. Sejak awal, Pontianak tumbuh dalam lingkungan hubungan antarkelompok, bukan sebagai permukiman yang terpisah dari dunia luar.
Dalam kajian Hubungan Internasional, sejarah ini mengingatkan bahwa hubungan lintas wilayah tidak selalu berlangsung melalui diplomasi antarnegara. Jauh sebelum sistem negara modern terbentuk, jaringan kesultanan, keluarga, pedagang, pelabuhan, dan komunitas agama telah menghubungkan berbagai kawasan. Pontianak menjadi salah satu simpul dalam jaringan tersebut.

Buku “Sejarah Sosial Daerah Kotamadya Pontianak” karya Syarif Ibrahim Alqadrie dan Pandil Sastrowardoyo, terbitan 1984, mencatat sejumlah nama perkampungan yang berkaitan dengan identitas atau daerah asal penghuninya.
Nama-nama tersebut dapat dibaca sebagai arsip sosial. Di dalamnya tersimpan jejak orang-orang yang datang, berdagang, menikah, membangun keluarga, dan membentuk lingkungan hidup.
Sebuah syair yang ditulis Sultan Matan pada 1895 dan dibahas Zulkifli Abdillah juga menggambarkan kemajemukan penduduk Pontianak, mulai dari Melayu, Bugis, Jawa, Madura, Arab Hadramaut, India, hingga Tionghoa dan kelompok lain dari berbagai kawasan.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa kemajemukan Pontianak bukan semata-mata hasil urbanisasi modern. Mobilitas manusia telah lama menjadi bagian dari pembentukan kota. Hubungan dengan dunia luar berlangsung melalui orang-orang yang datang dan pergi, tetapi juga melalui mereka yang menetap dan membangun kehidupan bersama.
Kelompok Bugis, misalnya, memiliki peran penting dalam jaringan politik dan ekonomi Kesultanan Pontianak. Kajian Any Rahmayani, Dana Listiana, dan Ina Mirawati menunjukkan hubungan orang Bugis dengan kerajaan-kerajaan di pesisir barat Borneo, terutama Sukadana dan Sambas. Pada abad ke-19, kegiatan perdagangan, pertanian, dan perkebunan turut memperkuat keberadaan komunitas Bugis.
Baca Juga RSUD SSMA Gelar Edukasi Pencegahan Diabetes Bagi Pegawai Dishub Pontianak
Komunitas Arab Hadrami juga memiliki hubungan penting dengan kehidupan kesultanan melalui perdagangan, agama, keluarga, dan kekuasaan. Sementara itu, migrasi orang Tionghoa memperlihatkan keterhubungan Pontianak dengan kawasan pertambangan dan perdagangan di pedalaman. Luo Fangbo, seorang pendatang Hakka dari Guangdong, membentuk Lanfang Kongsi di Mandor pada 1777. Organisasi tersebut berkembang dengan tata kelola komunitas, pertambangan, pertanian, dan perdagangan. Mandor berada di luar wilayah administratif Kota Pontianak, tetapi sejarahnya berkaitan dengan perkembangan kota pelabuhan di tepian Kapuas.
Hubungan antara Pontianak dan kawasan pedalaman memperlihatkan bahwa sejarah kota tidak dapat dipisahkan dari wilayah di sekitarnya. Perdagangan menghubungkan pelabuhan dengan daerah produksi, sementara pergerakan manusia membangun hubungan sosial yang melampaui batas administratif.
Di dalam kota, Pelabuhan Seng Hie memperlihatkan fungsi sungai sebagai jalur distribusi komoditas dan ruang pertemuan para pedagang, pekerja, serta pengusaha. Nama kampung menyimpan arsip sejarah. Sungai membuka jalur koneksi. Pelabuhan mempertemukan orang dan berbagai kepentingan.
Jaringan semacam ini memperlihatkan bahwa Pontianak tidak tumbuh sendirian. Kota ini berkembang bersama kawasan pedalaman dan pesisir, sekaligus menjadi bagian dari hubungan yang lebih luas di Nusantara dan kawasan sekitarnya.
Cerita keterhubungan Pontianak dengan dunia tidak berhenti pada kelompok Arab, Bugis, dan Tionghoa. Masyarakat Melayu, Dayak, Banjar, Jawa, Madura, Bali, Batak, Sunda, serta berbagai kelompok lain turut membentuk kehidupan sosial kota. Pertemuan antarkelompok tersebut memperkaya kehidupan Pontianak. Bahasa, makanan, tradisi, praktik keagamaan, dan kebiasaan sosial berkembang melalui interaksi sehari-hari. Identitas kota terbentuk dari lapisan pengalaman yang dibawa berbagai kelompok dan kemudian berinteraksi dalam ruang hidup yang sama.
Namun, keberagaman tidak selalu berjalan tanpa ketegangan. Penelitian Galuh Bayuardi, Andang Firmansyah, dan Superman mengenai heterogenitas penduduk Pontianak mengingatkan bahwa banyaknya kelompok etnis tidak otomatis menghasilkan pluralitas. Sentimen kedaerahan dan batas antara penduduk yang dianggap lokal dengan pendatang tetap dapat muncul.
Catatan ini penting agar sejarah keterhubungan Pontianak tidak berhenti sebagai romantisme kerukunan. Hubungan antarkelompok membutuhkan ruang perjumpaan yang setara, kesempatan berpartisipasi, dan kesediaan untuk memahami perbedaan. Kedekatan geografis tidak selalu berarti kedekatan sosial.
Baca Juga Hadiri Pelantikan BAKORMAD Tarakan, Wagub Ingkong Ala Ajak Jaga Kerukunan di Kaltara
Kosmopolitanisme, dalam pengertian ini, bukan sekadar warisan sejarah atau identitas yang melekat pada sebuah kota. Ia merupakan praktik yang perlu terus dibangun. Pontianak memiliki sejarah panjang perjumpaan manusia, tetapi kualitas hubungan antarmanusia pada masa kini tetap ditentukan oleh cara warganya mengelola perbedaan.
Jejak perjumpaan juga terlihat pada kawasan Mariana. Wilayah yang kini dikenal sebagai Kelurahan Mariana berkaitan dengan kompleks Marianne Oord, yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Di kawasan tersebut berkembang fasilitas pemerintahan dan militer kolonial. Masyarakat Melayu dan Bugis juga hidup di kawasan yang sama, memperlihatkan pertemuan antara kepentingan kolonial dan kehidupan masyarakat setempat.
Lapisan sejarah seperti ini mengingatkan bahwa kota selalu dibentuk oleh berbagai kekuatan dan pengalaman yang saling bertumpuk. Keterhubungan tidak selalu berlangsung dalam hubungan yang setara. Perdagangan, migrasi, dan pertukaran kebudayaan dapat berjalan beriringan dengan persaingan kekuasaan, penguasaan ruang, dan ketimpangan sosial.
Membaca sejarah Pontianak secara utuh berarti mengakui seluruh lapisan tersebut. Tidak semua jejak masa lalu terlihat jelas, tetapi pengaruhnya masih dapat ditelusuri melalui nama tempat, bangunan, pola permukiman, dan ingatan masyarakat.
Pontianak memang tidak tepat disamakan dengan global city seperti London, New York, atau Tokyo yang menjadi simpul utama ekonomi global. Namun, keterhubungan dengan dunia tidak selalu ditentukan oleh besarnya pusat keuangan atau kehadiran perusahaan multinasional. Sejarah Pontianak memperlihatkan bentuk keterhubungan lain yang tumbuh melalui sungai, perdagangan, migrasi, pelabuhan, dan jaringan antarkomunitas.
Pemikiran Andrew Linklater memberi pengingat penting bahwa kewajiban etis sebuah komunitas tidak berhenti pada kepentingan orang-orang di dalam batasnya sendiri. Hubungan dengan manusia di luar batas tersebut juga membawa konsekuensi etis. Bagi Pontianak, gagasan ini relevan untuk melihat hubungan dengan dunia sebagai kesempatan membangun solidaritas dan saling pengertian, bukan sekadar memperluas kegiatan ekonomi.
Warisan sejarah itu juga membuka pertanyaan bagi masa depan kota. Bagaimana Pontianak merawat kawasan tepian sungai sebagai ruang hidup sekaligus penghubung antarkomunitas? Bagaimana sejarah migrasi dan perdagangan dikenalkan kepada generasi muda? Bagaimana ruang publik, kebijakan kota, dan kegiatan ekonomi memberi kesempatan yang setara bagi warga dengan latar belakang berbeda?
Pertanyaan tersebut penting agar keterhubungan Pontianak tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Sejarah dapat menjadi modal untuk membangun kota yang terbuka terhadap pengetahuan, kebudayaan, dan kerja sama dari berbagai tempat, sekaligus tetap berpijak pada identitas dan kebutuhan masyarakatnya sendiri.
Baca Juga Peneliti Untan Ungkap Penyebab Cacing Muncul Di Sungai Kapuas Yang Viral
Pontianak telah lama terhubung dengan dunia melalui perjalanan manusia dan pertukaran antarkawasan. Tantangan hari ini adalah menjaga agar hubungan tersebut terus memberi manfaat bagi warga, memperkaya kehidupan kota, dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk hidup bersama.
Sejarah Pontianak memberi pelajaran bahwa sebuah kota tidak harus menjadi pusat ekonomi global untuk memiliki hubungan yang panjang dengan dunia. Keterhubungan tumbuh ketika manusia bergerak, bertemu, membangun jaringan, dan menemukan ruang untuk hidup bersama.
Pontianak yang hari ini genap berusia 255 tahun (23 Oktober 1771–23 Oktober 2026) tumbuh dari perjumpaan berbagai tempat dan manusia. Masa depan kota ini bergantung pada kemampuannya merawat keterhubungan tersebut sebagai sumber pengetahuan, solidaritas, dan kehidupan bersama. Dari sanalah Pontianak dapat terus tumbuh sebagai kota yang inklusif, tangguh, dan bersahabat.
Penulis: M. Hermayani Putera
Alumni Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Aktif di Gerakan Pembaharu (GAHARU) Pontianak.
*Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan kebenaran data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.