Sab, 08/08/26 · 23.27.43
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Perspektif

Seri 4 | Dari Gelar Menuju Dampak: Saatnya ICMI Hadir sebagai Institusi, Bukan Sekadar Kumpulan Orang Pintar

Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Minggu, 9 Agustus 2026 · 04:505 menit baca
Seri 4 | Dari Gelar Menuju Dampak: Saatnya ICMI Hadir sebagai Institusi, Bukan Sekadar Kumpulan Orang Pintar
Opini Prof. Gusti Hardiansyah tentang transformasi ICMI Kalbar dari sekadar himpunan individu menjadi institusi think-tank yang menghasilkan dampak kebijakan nyata. (Dok. Nusantara Post)

Ada satu kalimat dalam Rapat Pengurus Harian ICMI Orwil Kalimantan Barat, (8/7/2026), yang terus mengusik pikiran saya.

“Jangan hanya person ICMI yang masuk. Bendera ICMI-nya juga harus masuk.”

Kalimat itu sederhana. Namun jika direnungkan, ia menyentuh persoalan mendasar organisasi cendekiawan. ICMI memiliki banyak orang hebat. Pengurusnya berada di perguruan tinggi, pemerintahan, dunia usaha, organisasi profesi, lembaga sosial dan berbagai ruang pengambilan keputusan. Tetapi pertanyaannya bukan berapa banyak orang ICMI yang memiliki posisi strategis.

Pertanyaannya adalah: seberapa besar pengetahuan kolektif ICMI telah berubah menjadi pengaruh kelembagaan yang memberi manfaat kepada masyarakat? Perbedaannya besar. Seseorang dapat hadir dalam sebuah kebijakan karena kapasitas pribadinsya. Tetapi ketika ICMI hadir sebagai institusi, pengetahuan tidak berhenti pada individu. Ia menjadi institutional knowledge, diwariskan, diperdebatkan, diperbaiki, kemudian digunakan untuk memengaruhi kebijakan.

ICMI Kalbar Evaluasi Kinerja, Desa Cendekia hingga Isu Strategis Dibawa ke Muktamar VIII
Baca Juga

ICMI Kalbar Evaluasi Kinerja, Desa Cendekia hingga Isu Strategis Dibawa ke Muktamar VIII

Inilah salah satu refleksi terpenting dari evaluasi tahun pertama ICMI Orwil Kalimantan Barat. Draft rekomendasi menuju Muktamar VIII bahkan telah menyebut secara eksplisit bahwa ICMI harus diperkuat sebagai think-tank kebijakan nasional. Hasil riset cendekiawan ICMI diharapkan menjadi rujukan penyusunan kebijakan, sementara sinergi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha dan organisasi masyarakat perlu diperkuat.

Tetapi think-tank bukan sebuah gelar. Ia adalah cara bekerja. Rapat hari itu membuktikan bahwa ICMI sebenarnya memiliki bahan bakunya. Dalam beberapa jam, gagasan datang dari berbagai disiplin. Bidang pertambangan berbicara tentang percepatan regulasi IPERA, legalisasi pertambangan rakyat dan pengolahan emas tanpa merkuri.

Bidang kehutanan dan lingkungan menawarkan Desa Cendekia Karbon, sekaligus mengingatkan persoalan asap dan banjir yang berulang di Kalimantan Barat. Bidang energi membawa rencana simposium November bersama jejaring PLN, BAPPERIDA, ISMI dan pemangku kepentingan energi lainnya. Isunya tidak kecil: energi terbarukan, ketahanan energi Kalbar sampai literasi masyarakat mengenai PLTN.

ICMI Kalbar Integrasikan IPTEK dan IMTAQ Membangun Daerah
Baca Juga

ICMI Kalbar Integrasikan IPTEK dan IMTAQ Membangun Daerah

Bidang pendidikan mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar: ketika kita mengatakan “ekonomi umat berbasis nilai Islam”, nilai Islam yang mana yang benar-benar hendak diterapkan? Pertanyaan itu penting. Kata Islami mudah ditambahkan pada nama program. Jauh lebih sulit menerjemahkannya menjadi kejujuran, amanah, disiplin, keadilan, kepedulian dan perilaku yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang peserta mengingatkan bahwa hafalan Al-Qur’an seharusnya berjalan bersama akhlak. Yang lain memperluas makna dakwah: dakwah bukan hanya TPA, pengajian dan kegiatan masjid. Bagaimana ekonomi dikelola, lingkungan dijaga, kesehatan diperkuat dan narkoba dicegah juga merupakan ruang dakwah. Bidang sosial budaya kemudian membawa persoalan anak-anak.

Di tengah penetrasi gadget, anak dapat berkumpul secara fisik tetapi kehilangan interaksi sosial. Maka tari, permainan tradisional dan kesenian lokal tidak boleh dipandang sebagai ornamen pembangunan. Di dalamnya terdapat proses berteman, bergerak, mengenali identitas dan belajar hidup bersama.

Dari Kapuas Hulu datang cerita mengenai air bersih dan kematian ikan saat kemarau panjang. Dari perspektif regional muncul gagasan perbatasan sebagai gateway ekonomi, industri halal, UMKM, pasar Sarawak-Brunei, konektivitas darat-laut dan pariwisata halal.

Ada pula gagasan Kampung Sehat, stunting, Cek Kesehatan Gratis, Jum’at Sehat dan KKN tematik. Jika seluruh gagasan itu ditulis di papan, kita mungkin melihatnya sebagai daftar panjang yang tidak saling berhubungan.

Saya justru melihat sebaliknya. Itulah modal intelektual ICMI. Masalahnya adalah bagaimana mengubah kumpulan gagasan menjadi arsitektur pengetahuan. Di sinilah Divisi Media memberi catatan penting. Gagasan yang muncul dalam forum jangan menghilang setelah rapat selesai. Ia perlu dituangkan menjadi tulisan, bahkan disusun secara berseri.

Seri 3 | Dari Asap, Banjir hingga Karbon: Mencari Wajah Baru Kepemimpinan Ekologis Kalimantan Barat
Baca Juga

Seri 3 | Dari Asap, Banjir hingga Karbon: Mencari Wajah Baru Kepemimpinan Ekologis Kalimantan Barat

Saya sepakat. Tetapi kita dapat melangkah lebih jauh. ICMI harus membangun siklus pengetahuan. Mulainya dari masyarakat. Persoalan nyata masuk melalui pengurus daerah, desa, akademisi dan jejaring profesional. ICMI kemudian mempertemukan disiplin ilmu yang relevan. Masalah dikaji. Data dikumpulkan. Alternatif solusi dibandingkan. Rekomendasi dirumuskan. Hasilnya dipublikasikan. Setelah itu ICMI masuk ke ruang kebijakan untuk mengadvokasikan rekomendasi tersebut.

Alurnya menjadi:
Mendengar → Mengkaji → Menulis → Merekomendasikan → Menghubungkan → Mengawal → Mengevaluasi.

Inilah yang membedakan think-tank dari forum diskusi. Novelty-nya bukan terletak pada banyaknya seminar. Novelty-nya adalah kemampuan mengubah collective intelligence menjadi collective impact. Pendekatan itu juga menjawab pertanyaan bagaimana ICMI masuk dalam program pemerintah.

Salah seorang peserta mengingatkan bahwa banyak kebijakan pemerintah kini bermuara pada kelembagaan desa. Karena itu ICMI perlu memahami alur pikir pemerintah, termasuk kemungkinan berkolaborasi dengan kelembagaan koperasi desa.

Pesannya tepat: jangan membuat pulau program baru jika jembatan menuju program yang sudah tersedia dapat dibangun. Dalam konteks Desa Cendekia Entibab, misalnya, ICMI tidak harus membeli sendiri panel surya, membangun instalasi air, membiayai seluruh reklamasi, menyediakan layanan kesehatan dan mengembangkan ekonomi desa dengan kas organisasi.

Itu bukan kekuatan utama ICMI. Kekuatan kita adalah mengorkestrasi pengetahuan dan jejaring.Perguruan tinggi membawa riset. Pemerintah membawa kewenangan dan program. BUMN membawa teknologi dan sumber daya. Dunia usaha membuka rantai nilai. Koperasi mengorganisasikan ekonomi masyarakat. Tokoh agama memperkuat nilai. Generasi muda membawa inovasi digital. Masyarakat menjadi pelaku utama.

ICMI mempertemukan mereka. Karena itu saya membayangkan setiap isu strategis yang dibahas ICMI akhirnya menghasilkan minimal empat keluaran:

Desa Cendikia: Ketika Tambang Rakyat Menjadi Laboratorium Peradaban
Baca Juga

Desa Cendikia: Ketika Tambang Rakyat Menjadi Laboratorium Peradaban

  • Policy brief.
  • Pilot project.
  • Partnership.
  • Public communication.

Ambil contoh IPERA. ICMI tidak cukup mengatakan regulasinya perlu dipercepat. Kita perlu menjelaskan mengapa percepatan diperlukan, bagian mana yang menjadi hambatan, siapa yang memiliki kewenangan, bagaimana implikasinya terhadap IPR, lingkungan, penerimaan daerah dan masyarakat.

Itulah policy brief. Entibab menjadi tempat menguji pendekatan pertambangan rakyat yang legal, non-merkuri dan berwawasan lingkungan. Itulah pilot project. Pemerintah, koperasi, perguruan tinggi dan mitra teknologi dipertemukan. Itulah partnership. Kemudian masyarakat perlu mengetahui mengapa pertambangan legal dan bertanggung jawab lebih baik daripada praktik yang tidak terkendali.

Itulah public communication. Model yang sama dapat diterapkan pada karbon, energi, industri halal, kesehatan, pendidikan dan kawasan perbatasan. Dengan cara itu, SILAKWIL dan Simposium Daerah yang sedang kita rancang tidak boleh berakhir sebagai pertemuan tahunan. Simposium harus menjadi pabrik gagasan kebijakan. Setiap panel harus menjawab: apa masalahnya, apa buktinya, apa solusinya, siapa melakukan apa, dan kapan dimulai?

Kemudian rekomendasi terbaik dibawa menuju Muktamar VIII ICMI di Ambon, 4–6 Desember 2026.

Dokumen rekomendasi Kalbar sebenarnya telah memberikan arah: ketahanan pangan, transisi energi, etika publik, ekonomi umat, penguatan ICMI sebagai think-tank dan pembangunan kawasan perbatasan.

Sekarang tantangannya adalah membuat enam agenda tersebut memiliki kaki untuk berjalan.

Karena organisasi tidak dikenang dari berapa banyak rapat yang diselenggarakan.

Organisasi dikenang dari perubahan yang berhasil ditinggalkannya.

Al-A‘lā: Menurunkan Ego Kekuasaan, Meninggikan Martabat Kepemimpinan
Baca Juga

Al-A‘lā: Menurunkan Ego Kekuasaan, Meninggikan Martabat Kepemimpinan

Maka setelah satu tahun kepengurusan, evaluasi terbaik bagi ICMI Kalimantan Barat bukan bertanya berapa kegiatan yang telah dilakukan.

Kita perlu bertanya lebih keras:

Apakah ilmu kita sudah menyelesaikan persoalan masyarakat?

Jika jawabannya belum, kita tidak perlu kehilangan semangat.

Kita justru sudah menemukan pekerjaan berikutnya. Saatnya ICMI bergerak dari person menuju institusi, dari forum menuju think-tank, dari gagasan menuju kebijakan, dan dari kecendekiawanan menuju kemaslahatan. Sebab gelar akademik menunjukkan seseorang pernah belajar. Dampak menunjukkan untuk siapa ilmu itu digunakan.

Penulis: Gusti Hardiansyah
#Guru Besar Universitas Tanjungpura
#Ketua ICMI Orwil KALBAR

*Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan kebenaran data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.