Sebanyak 28 pasang lilin berbentuk sepatu hak tinggi berjejer rapi.
Satu per satu, lilin-lilin tersebut dibakar secara kronologis dalam hitungan mundur, dari tahun 2026 menuju 1998.
Di balik setiap lelehan dan nyala apinya, seniman dan kurator kelahiran Surakarta, Clarissa Tifanny, menyusun sebuah arsip visual atas kehilangan, trauma generasional, serta kekhawatiran nyata: ancaman penghapusan sejarah pengalaman perempuan Tionghoa-Indonesia.
Melalui karya instalasi bertajuk Burned Twice yang dipamerkan dalam ajang Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 16, Clarissa meretas kembali rentetan 28 tahun ingatan sejak tragedi Kerusuhan Mei 1998.


























