Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Seni

Burned Twice: Lelehan Lilin Clarissa Tifanny dan Jejak Trauma Perempuan Tionghoa

Roska Putra
Roska Putra
Minggu, 8 November 2026 · 16:002 menit baca
Burned Twice: Lelehan Lilin Clarissa Tifanny dan Jejak Trauma Perempuan Tionghoa
Seniman Clarissa Tifanny bersandar di samping deretan 28 pasang lilin berbentuk sepatu hak tinggi dalam karya instalasi Burned Twice. (Dok. ICAD 16)

Sebanyak 28 pasang lilin berbentuk sepatu hak tinggi berjejer rapi.

Satu per satu, lilin-lilin tersebut dibakar secara kronologis dalam hitungan mundur, dari tahun 2026 menuju 1998.

Di balik setiap lelehan dan nyala apinya, seniman dan kurator kelahiran Surakarta, Clarissa Tifanny, menyusun sebuah arsip visual atas kehilangan, trauma generasional, serta kekhawatiran nyata: ancaman penghapusan sejarah pengalaman perempuan Tionghoa-Indonesia.

Melalui karya instalasi bertajuk Burned Twice yang dipamerkan dalam ajang Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 16, Clarissa meretas kembali rentetan 28 tahun ingatan sejak tragedi Kerusuhan Mei 1998.

Ahmet Öğüt Pamerkan Semangka dan Sertifikat Donor Jantung untuk Gaza di ICAD 16
Baca Juga

Ahmet Öğüt Pamerkan Semangka dan Sertifikat Donor Jantung untuk Gaza di ICAD 16

Bentuk sepatu lilin yang perlahan meleleh melambangkan peluruhan identitas kultural dan kerapuhan ingatan kolektif yang tak pernah sepenuhnya berhasil dipulihkan.

“Konsep pertama dari karya Burned Twice itu sebenarnya lebih ke pewarisan budaya atau tradisi yang makin lama makin luntur,” ungkap Clarissa saat menceritakan akar gagasan karya tersebut.

Bagi seniman berbasis Bandung ini, mendokumentasikan setiap fase peluruhan lilin bukan sekadar pertunjukan estetis, melainkan tindakan perlindungan atas narasi sejarah yang sering kali terancam diburamkan atau dilupakan secara sistematis.

Dokumentasi harian dari proses pembakaran tersebut diangkat menjadi bagian integral dari karya sebuah cara menjadikan aktivitas mengingat dan mencatat sebagai bentuk perlawanan.

Eksplorasi visual karya ini semakin kuat berkat perpaduan material pendukung seperti struktur waste kaca dari Himalaya Abadi.

Putu Sutawijaya Angkat Perjuangan Warga Merapi lewat Lukisan dan Patung di ICAD 16
Baca Juga

Putu Sutawijaya Angkat Perjuangan Warga Merapi lewat Lukisan dan Patung di ICAD 16

Bagi Clarissa yang juga berpraktik sebagai kurator, eksperimen material tersebut memberi karakter visual tersendiri pada pesan yang diusungnya.

“Penggunaan material dari Himalaya itu bagian dari teknis yang tidak disengaja sebenarnya. Dan ternyata malah dengan adanya penggunaan si waste tadi, jadi nge-enhance karyaku… jadi kelihatan mewah aja sih,” jelasnya.

Keterlibatan eksplorasi material kaca ini telah lama menjadi impiannya sejak masa studi akademis.

“Dari dulu aku suka banget dengan Himalaya Abadi… zaman kuliah itu aku suka banget enggak tahu kenapa. Jadi kalau misalnya dari Himalaya bisa memberikan kesempatan ke saya untuk berkarya di ICAD, itu oke banget sih,” tambah Clarissa.

Melalui Burned Twice, Clarissa Tifanny tidak hanya memajang tumpukan lilin atau lelehan yang mengeras. Ia menantang pengunjung untuk menatap kembali luka sejarah yang kerap berusaha dihapus.

Di tengah zaman yang serba bergegas untuk lupa, karya ini menjadi peringatan sunyi bahwa ingatan dan identitas perempuan Tionghoa-Indonesia harus terus dirawat dan dicatat—agar tidak pernah sirnah terbakar dua kali.

(roska)