Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Smart & Green City

Pakar Kota Pintar Korea Selatan Nilai IKN “Sedang dalam Proses” Menjadi Smart City

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Minggu, 8 November 2026 · 20:252 menit baca
Pakar Kota Pintar Korea Selatan Nilai IKN “Sedang dalam Proses” Menjadi Smart City
Profesor International School of Urban Sciences, University of Seoul, ChunHo Yeom, dalam video yang diunggah akun Instagram resmi @ikn.id, dikutip Minggu (8/11/2026). (Tangkapan layar: Instagram @ikn.id)

Profesor dari International School of Urban Sciences, University of Seoul, Korea Selatan, ChunHo Yeom menilai Ibu Kota Nusantara (IKN) memiliki keindahan alam yang menjadi daya tarik tersendiri. Namun ia menegaskan Nusantara belum sepenuhnya menjadi kota pintar (smart city) dan masih dalam proses.

Pandangan itu ia sampaikan dalam video yang diunggah akun Instagram resmi @ikn.id, dikutip Minggu (8/11/2026).

Yeom mengaku terkesan dengan konsep pembangunan Nusantara yang menyatu dengan alam.

“Salah satu hal yang saya rasakan pertama kali datang ke Ibu Kota Nusantara, karena kota ini dibangun bersama dengan keseimbangan alam yang indah. Saya merasa ini lebih indah daripada kota mana pun di dunia,” ujarnya.

Sepak Bola Usia Muda Tak Hanya di Jawa, PSSI Bawa Pemain Piala Soeratin ke IKN
Baca Juga

Sepak Bola Usia Muda Tak Hanya di Jawa, PSSI Bawa Pemain Piala Soeratin ke IKN

Meski demikian, ia menilai IKN belum memenuhi konsep kota pintar secara penuh.

“Tentu saja ini belum menjadi smart city yang sepenuhnya selesai, tetapi saya pikir saat ini sedang dalam proses menuju menuju smart city,” katanya.

Menurut Yeom, berbagai pihak, termasuk Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), terus berupaya mewujudkan konsep itu, dan Korea Selatan juga terlibat dalam kerja sama pengembangan kota pintar di Nusantara.

https://www.instagram.com/reel/DfZYbtrpopW/?utm_source=ig_web_copy_link&rpxt=NTc4MTIwNjQ2YQ==

Lari Malam 5 Kilometer di Nusantara, Mahasiswa Gunadarma dan Warga Ikut Berlari
Baca Juga

Lari Malam 5 Kilometer di Nusantara, Mahasiswa Gunadarma dan Warga Ikut Berlari

Yeom menyebut dua faktor yang membedakan kota pintar dari kota biasa, yaitu data dan konektivitas.

Informasi, katanya, harus diperoleh, dianalisis, diolah, dan dimanfaatkan agar bisa dibagikan kepada masyarakat.

“Salah satu hal terbesar yang membedakan smart city dari kota pada umumnya berakhirnya adalah informasi. Informasi tersebut harus diperoleh, dianalisis, diproses, dan dimanfaatkan agar bisa dibagikan kepada masyarakat dan penduduk setempat,” tuturnya.

Yeom menilai tantangan Nusantara berbeda dari pengembangan kota pintar di wilayah yang sudah terbentuk.

“Karakteristik Ibu Kota Nusantara adalah ini bukan mengubah kota yang sudah ada menjadi smart city, melainkan membangun kota baru dari tempat yang sebelumnya tidak ada apa-apa, sehingga dalam situasinya banyak keputusan yang harus dibuat,” katanya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya sumber daya manusia dan keputusan strategis.

FK UI dan Gunadarma Masuk IKN, Buka Program Kuliah dan Riset Kesehatan
Baca Juga

FK UI dan Gunadarma Masuk IKN, Buka Program Kuliah dan Riset Kesehatan

“Kita harus membentuk tim dengan baik, orang-orang pilihan terbaik untuk dapat membuat keputusan strategis yang baik juga,” ujarnya.

Menurut dia, keputusan yang tepat sejak tahap pembangunan akan mengurangi kesalahan dan kegagalan, dengan OIKN sebagai pusatnya.

(Toni)