Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Lingkungan

Bayi Orangutan Lahir di Hutan Jambi, Hasil Pemantauan Pelepasliaran Selama 25 Tahun

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Minggu, 8 November 2026 · 19:241 menit baca
Bayi Orangutan Lahir di Hutan Jambi, Hasil Pemantauan Pelepasliaran Selama 25 Tahun
Seekor induk orangutan terlihat bersama anaknya di tajuk pohon hutan. Pemantauan di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh sepanjang Januari–Oktober 2026 mencatat tiga temuan induk bersama anak. (Foto: Kemenhut RI)

Pemantauan sepanjang Januari-Oktober 2026 di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Jambi, mencatat tiga temuan induk orangutan Sumatera bersama anaknya.

Kementerian Kehutanan menyebut temuan itu muncul pada tahun ke-25 program reintroduksi orangutan di kawasan tersebut.

Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh Gebyar Andyono mengatakan kehadiran anak-anak orangutan ini menjadi indikator positif bahwa habitat di Bukit Tiga Puluh dalam kondisi sangat ideal bagi perkembangbiakan satwa.

“Kisah mereka juga membawa harapan bagi masa depan orangutan Sumatera di habitat alaminya,” ujarnya, seperti tertulis dalam siaran pers Kementerian Kehutanan, Jumat (6/11/2026).

Koalisi Sipil Desak RSPO Bertanggung Jawab atas Karhutla
Baca Juga

Koalisi Sipil Desak RSPO Bertanggung Jawab atas Karhutla

Candy. Orangutan betina ini dilepasliarkan pada Maret 2006. Pada 12 Mei 2026, tim pemantau Sumatran Orangutan Reintroduction Center (SORC) Sungai Pengian menjumpainya bersama anak keduanya, seekor betina yang diperkirakan berusia dua tahun.

Menurut tim, si kecil aktif bermain, dan menjelang senja Candy membangun sarang di tajuk pohon untuk beristirahat bersama anaknya.

Jeky Chan. Betina ini hidup kembali di alam sejak Juli 2015. Pada 28 September 2026, ia terpantau bersama bayi jantan yang baru lahir bernama Jerry.

Anak pertamanya, Jelly Bean, teramati mandiri dan berpisah dari induknya pada Juni 2026.

Anak Badak Jawa Lahir di Ujung Kulon, Terekam Camera Trap
Baca Juga

Anak Badak Jawa Lahir di Ujung Kulon, Terekam Camera Trap

Induk yang belum teridentifikasi. Pada 16 Oktober, tim menjumpai seekor induk bersama anak berusia sekitar tiga tahun. Keduanya tampak sehat dan aktif.

Identitas induk masih ditelusuri untuk memastikan apakah pasangan ini baru tercatat atau pernah dijumpai sebelumnya.

“Kisah mereka memperlihatkan arti penting pemantauan setelah pelepasliaran. Dari tahun ke tahun, tim mengikuti perjalanan orangutan dalam beradaptasi, bertahan hidup, hingga mengasuh anak di hutan,” kata Gebyar.

Setelah 25 tahun, kehadiran generasi baru disebut menjadi salah satu tanda kemajuan upaya reintroduksi.

Gebyar menegaskan perlindungan habitat dan kerja bersama berbagai pihak perlu terus dijaga agar anak-anak orangutan ini dapat tumbuh di alam.

Kementerian Kehutanan mengajak masyarakat mendukung kelestarian kawasan hutan, dengan penjagaan ekosistem Taman Nasional Bukit Tiga Puluh sebagai kunci.

(Rudi)