Kehadiran Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, dalam dialog terbuka bersama ratusan massa Aliansi Kalbar Revolusi Jilid 3 di Gedung DPRD Kalbar pada Jumat (23/10/2026) memantik kekecewaan dari massa aksi. Datang terlambat di tengah dialog yang nyaris berujung chaos, sang Wakil Gubernur justru memilih bungkam seribu bahasa menghadapi rentetan tuntutan rakyatnya.
Aksi unjuk rasa yang melibatkan hampir 400 demonstran tersebut mulanya menuntut pertanggungjawaban konkret atas 20 isu krusial, mulai dari bencana Karhutla hingga kekerasan terhadap mahasiswa. Namun, sikap pasif elit pemerintahan provinsi yang hadir memicu kritik tajam dari barisan demonstran.
Perwakilan massa aksi, Pangestu, secara blak-blakan menyoroti absennya keberanian dari jajaran pimpinan daerah untuk memberikan garansi penyelesaian masalah. Ia secara khusus melayangkan kritik keras terhadap sikap diam Krisantus di tengah krisis yang sedang dipertanyakan rakyat.
“Sangat disayangkan untuk Wagub yang hanya diam saja, AFK saja. Padahal tanggung jawab Karhutla dan apapun yang terjadi di Kalimantan Barat ini tanggung jawab mereka berdua. Rakyat memilih mereka berdua, jadinya harusnya mereka berdua yang bertanggung jawab,” kritik Pangestu di hadapan publik.

