Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Demokrasi

Datang Terlambat Hadapi Ratusan Massa Aksi Sikap Diam Wagub Kalbar Tuai Kritik

Hendrawan
Hendrawan
Jumat, 23 Oktober 2026 · 23:421 menit baca
Datang Terlambat Hadapi Ratusan Massa Aksi Sikap Diam Wagub Kalbar Tuai Kritik
Wagub Kalbar Krisantus memantik kekecewaan usai memilih bungkam saat dialog terbuka bersama massa Aliansi Kalbar Revolusi Jilid 3 di Gedung DPRD. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Kehadiran Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, dalam dialog terbuka bersama ratusan massa Aliansi Kalbar Revolusi Jilid 3 di Gedung DPRD Kalbar pada Jumat (23/10/2026) memantik kekecewaan dari massa aksi. Datang terlambat di tengah dialog yang nyaris berujung chaos, sang Wakil Gubernur justru memilih bungkam seribu bahasa menghadapi rentetan tuntutan rakyatnya.

Aksi unjuk rasa yang melibatkan hampir 400 demonstran tersebut mulanya menuntut pertanggungjawaban konkret atas 20 isu krusial, mulai dari bencana Karhutla hingga kekerasan terhadap mahasiswa. Namun, sikap pasif elit pemerintahan provinsi yang hadir memicu kritik tajam dari barisan demonstran.

Perwakilan massa aksi, Pangestu, secara blak-blakan menyoroti absennya keberanian dari jajaran pimpinan daerah untuk memberikan garansi penyelesaian masalah. Ia secara khusus melayangkan kritik keras terhadap sikap diam Krisantus di tengah krisis yang sedang dipertanyakan rakyat.

“Sangat disayangkan untuk Wagub yang hanya diam saja, AFK saja. Padahal tanggung jawab Karhutla dan apapun yang terjadi di Kalimantan Barat ini tanggung jawab mereka berdua. Rakyat memilih mereka berdua, jadinya harusnya mereka berdua yang bertanggung jawab,” kritik Pangestu di hadapan publik.

Massa Aliansi Kalbar Revolusi Geruduk DPRD Provinsi Tuntut Tanggung Jawab Bencana Karhutla Kepada Gubernur
Baca Juga

Massa Aliansi Kalbar Revolusi Geruduk DPRD Provinsi Tuntut Tanggung Jawab Bencana Karhutla Kepada Gubernur

Ketidakmampuan pimpinan daerah memberikan statement yang menjamin proses penegakan hukum bagi oknum pemukul massa aksi kian memperburuk situasi. Kegagalan mencapai titik temu dalam dialog tersebut akhirnya memaksa massa untuk menarik mundur barisan ke Bundaran Digulis. Mereka merapatkan barisan dengan janji akan terus menduduki jalanan hingga pemerintah daerah berani mengambil sikap nyata, bukan sekadar diam.

(Hendrawan)