Tri Handoko atau akrab disapa Doki, penanggung jawab Program Mata Garuda Membangun Desa, saat ditemui di sela-sela survei lapangan di Kabupaten Melawi, Jumat (1/5/2026). (Dok. Dayank/Nusantara Post)
Desa Karangan Purun, Kecamatan Sayan, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, berhasil menembus babak grand final Program Mata Garuda Membangun Desa bersaing di kancah nasional bersama dua desa lainnya dari Raja Ampat dan Pohuwato. Sebagai bagian dari tahap seleksi akhir, tim Mata Garuda turun langsung ke Melawi untuk survei lapangan pada Jumat hingga Minggu (1–3 Mei 2026).
Tri Handoko atau kerap disapa Doki selaku penanggung jawab program tersebut menjelaskan bahwa 28 Desa yang berkompetisi dalam seleksi dokumen hingga menghasilkan 9 Desa terpilih untuk melanjutkan presentasi di depan juri.
Kemudian mengerucut 3 Desa yang menjadi kandidat survei lapangan salah satunya yakni desa yang terletak di Kabupaten Melawi tersebut.
“Nah presentasi ini mereka harus membawa Kepala Desa juga untuk ikut presentasi. Jadi bukan cuma PIC atau koordinator desa, tapi juga ada Kepala Desa secara langsung. Kita butuh komitmen dari aparat-aparat yang bertugas di lapangan. Aparat desa, kepala desa, sekretaris desa, dan semuanya untuk bisa membantu program kerjanya berjalan,” ungkap Doki, Jumat (1/5/2026).
Ia mengaku bahwa sempat kesulitan dalam penyeleksian, sebab 9 Desa memiliki ciri khas masing-masing. Dalam pandangannya Desa Karan Purun memahami kekurangan desa, di samping orang-orang yang antusias berkembang serta siap keluar dari lingkar kehidupan saat ini.
“Dari 9 desa ternyata tiap desa itu punya ciri khas dan karakternya masing-masing. Nah itu lumayan sulit untuk menentukan. Sampai akhirnya terpilih 3 desa yang sekarang, grand final termasuk Melawi. Itu karena yang pertama mereka itu paham kekurangan yang mereka punya itu apa. Dan mereka secara karakter itu memang orang-orangnya mau berkembang. Dan siap untuk dibimbing agar bisa berusaha untuk keluar dari apa yang mereka alami sekarang,” imbuh Doki memaparkan alasan bagaimana Melawi dapat lolos seleksi dari 9 finalis.
Dua desa lainnya adalah Desa Urbinasopen di Kabupaten Raja Ampat dan Desa Torosiaje di Kabupaten Pohuwato dinilai dari kacamata kesiapan untuk tiga aspek yakni ketahanan pangan, ketahanan energi, dan sumber daya manusia.
“Nah tiga-tiga ini karakternya unik-unik semua. Dan kita mau lihat secara langsung di lokasi. Nah makanya ada hari ini kita survei lapangan. Ini tujuannya untuk menentukan satu desa terpilih. Yang akhirnya sudah siap untuk jadi desa binaan kita,” sambungnya.
Pengecekan lokasi bertujuan melihat bagaimana fasilitas desa, akses, dan segala hal yang dimiliki desa bersangkutan disamping tiga aspek utama yang ia jelaskan sebelumnya.
“Nah nanti di lokasi yang akan kita cek, yang pertama fasilitas desa. Akses desa seperti apa, Balai Desa seperti apa, Koperasi Desa desa, Karang Taruna, Itu kita cek semua. Lalu yang kedua, kesesuaian dengan ketahanan pangan dan ketahanan energi. Itu potensinya seperti apa, yang sudah ada seperti apa, orang-orangnya seperti apa. Nah yang ketiga, kita juga mau kenal langsung dengan masyarakatnya. Apakah masyarakatnya terbuka dengan inovasi-inovasi, apakah masyarakatnya siap bertransformasi. Itu kita masuk ke sana. Nanti kalau dari tiga-tiganya aspeknya sudah terpenuhi, nah ini akan kita pilih satu desa untuk dijadikan desa binaan,” imbuh Doki.
Doki menekankan bahwa meski program ini hanya memperoleh satu desa binaan dalam satu tahun bukan berarti desa lainnya diabaikan. Dari pembinaan tersebut maka akan menghasilkan buku yang kemudian digunakan sebagai acuan desa lainnya.
“Nantinya akan jadi contoh untuk kita membuat satu buku panduan desa yang akan kita sebarkan ke 10 ribu desa lainnya di Indonesia. Jadi Mata Garuda Pusat itu, yang bisa kita lakukan sekarang hanya membina satu desa. Tapi enggak berarti desa-desa lain enggak bisa dapat manfaatnya. Jadi satu desa kita bina, 10 ribu desa lainnya kita kasih buku panduan,” tutur Doki.
Ia juga menekankan bahwa untuk memonitoring hal tersebut diluar memberikan buku panduan kepada 10 ribu desa selain desa binaan.
“Selain dikasih buku panduan, kan butuh desa untuk membaca dan mengaplikasikan. Dan mungkin nggak semua desa paham sampai sana. Jadi mungkin bisa diadakan pelatihan-pelatihan khusus untuk kepala desa. Jadi misalnya dalam satu provinsi kita undang seluruh kepala desa untuk hadir, kita beri buku panduan, lalu kita beri pelatihan,” jawabnya.
Dalam tiga aspek pengembangan yang akan dihimpun Mata Garuda, Doki menjelaskan kesesuaian karakteristik serta apa yang dimiliki desa akan sangat menarik bila terdapat sektor wisata.
“Dalam satu tahun ini akan ada periode kita mengembangkan tangannya, mengembangkan energinya, mengembangkan sebagai manusianya. Dan kalau ada potensi wisata di sana, ini bonus buat kita juga untuk eksplorasi,” ungkapnya.
Sebelum melibatkan perangkat desa dan juga masyarakat program Mata Garuda akan menilik bagaimana karakteristik serta kultur dan budaya setempat.
“Melihat karakteristik desa, karena desa yang komoditasnya sayur-mayur akan beda dengan desa yang nelayan isinya. Jadi harus disesuaikan mereka hidupnya seperti apa, kultur atau budayanya seperti apa. Itu semua harus sesuai. Bahkan nanti ketika kita sudah mulai membuat programnya, itu harus kita konfirmasi lagi ke desa. Apakah menurut desa ini bisa dilakukan? Dan menurut desa ini adalah program yang cocok? Jadi selain kita masuk, kita juga melibatkan aparat desa untuk bareng-bareng, yuk kita buat desanya lebih maju,” sambung Doki.
Tak lupa Doki menyampaikan harapannya melalui program ini agar pemerintah dapat melihat serta terlibat dalam mendukung membina desa-desa di seluruh Indonesia serta tidak beranggapan bahwa pembangunan program ini merupakan sebuah ancaman.
“Desa-desa dimanapun di seluruh Indonesia yang memang sekarang sedang struggling dengan desanya masing-masing. Jangan khawatir karena masih banyak orang yang peduli dengan desa-desa. Mungkin sekarang baru satu yang kita pegang. Tapi harapannya ketika nanti udah terus berjalan, ini kita bisa memajukan seluruh desa di Indonesia. Targetnya memang seluruh desa di Indonesia. 10 ribu itu mau kita bantu semuanya Untuk pemerintah yang mungkin mendengarkan atau membaca ini, menurut saya ini sebuah kesempatan, sebuah inisiasi. Untuk bisa aksesnya lebih luas lagi, untuk bisa lebih banyak desa yang terbantu, ini pasti butuh bantuan dari pemerintah juga. Untuk bareng-bareng kita majukan desanya. Kalau pemerintah masih ada hati, pemerintah masih mau menjalankan fungsinya secara substansi, harusnya sih bukan menganggap kita sebagai ancaman, tapi justru sebagai teman untuk membangun desa,” ujarnya penuh harap.
Ahmadi, Ketua Mata Garuda Kalimantan Barat, mengaku bangga Desa Karangan Purun Melawi berhasil menembus grand final Program Mata Garuda Membangun Desa tingkat nasional. (Dok. TNP)
Ahmadi selaku ketua Mata Garuda Kalimantan Barat menyampaikan apresiasi dan perasaan bangga karena Melawi berhasil masuk dalam seleksi menjadi finalis 3 besar yang bersaing di kancah Nasional.
“Perasaan sangat senang sekali, karena salah satu daerah kita di Kalimantan Barat, di Melawi ini, masuk ke salah satu grand final dari Indonesia Raya,” tuturnya bangga.
Tim Mata Garuda Kalimantan Barat memberikan dukungan moral, mental, dan motivasi lainnya kepada putra daerah yang akhirnya menghantarkan Melawi pada posisi ini.
“Jadi ini memang program, proposalnya semua dari Putra Daerah sendiri, memang anggota kami di Mata Garuda. Beliau berjuang sendiri karena memang Putera Daerah, beliau yang tahu latar belakang desanya. Kami di Mata Garuda memberi support moral, support semangat juga, motivasi, juga diskusi juga,” sambung Ahmadi.
Ia berharap dengan masuknya Melawi pada program Bina Desa oleh Mata Garuda dapat memberikan dampak untuk Kalimantan Barat.
“Terus harapan kami tentu saja bisa berhasil, semoga lolos, sehingga bisa memberikan dampak untuk daerah yang ada di Kalimantan Barat,” tutup Ahmadi.