Sen, 29/06/26 · 06.19.26
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Duel Catur Sengit Wali Kota Pontianak dan Master Nasional Arief Rahman Jadi Pendorong Untuk Pembinaan Usia Dini

Hendrawan
Hendrawan
Minggu, 28 Juni 2026 · 18:043 menit baca
Duel Catur Sengit Wali Kota Pontianak dan Master Nasional Arief Rahman Jadi Pendorong Untuk Pembinaan Usia Dini
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menahan imbang MN Arief Rahman dalam laga persahabatan, momentum perkuat pembinaan catur usia dini untuk kejar gelar Grandmaster. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Pertandingan persahabatan catur antara Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, dan Master Nasional (MN) Arief Rahman di Elaia Coffee & Eatery, Sabtu (27/6/2026) malam, menjadi langkah awal Pemerintah Kota Pontianak untuk kembali mendorong pembinaan olahraga catur bagi generasi muda.

Menurut Edi, indikator utama kemajuan pembinaan catur di suatu daerah dapat dilihat secara objektif dari jumlah atlet yang berhasil meraih gelar resmi, mulai dari tingkatan Master Nasional, Master Internasional, hingga Grandmaster (GM).

“Kalau kita mau lihat kemajuan olahraga catur, itu bisa dilihat dari jumlah master nasional, master internasional, bahkan grandmaster. Itu menunjukkan prestasi,” ujar Edi usai pertandingan.

Hari Berkabung Daerah, Wali Kota Pontianak Minta Sejarah Peristiwa Mandor Dirawat
Baca Juga

Hari Berkabung Daerah, Wali Kota Pontianak Minta Sejarah Peristiwa Mandor Dirawat

Saat ini, daftar pecatur berprestasi di Pontianak diisi oleh MN Arief Rahman dan Fide Master (FM) Muhammad Kamalsyah Patappa. Ke depan, Edi menargetkan agar Pontianak mampu melahirkan pecatur baru yang bisa menembus gelar Grandmaster.

Untuk mencapai target jangka panjang tersebut, Edi menilai pembinaan berkelanjutan sejak usia dini dan banyaknya kompetisi merupakan syarat wajib. Ia juga mendorong agar kelompok-kelompok catur junior terus diperkuat. Selain itu, pemerintah mendukung pemanfaatan berbagai ruang seperti fasilitas publik, area komersial, maupun kedai kopi untuk dijadikan tempat berlatih dan bertanding yang mudah diakses oleh masyarakat.

“Kita berharap mudah-mudahan Kota Pontianak bisa melahirkan banyak master internasional, bahkan sampai grandmaster. Kuncinya pembinaan sejak usia dini dan sering kompetisi,” kata Edi.

Edi mengungkapkan harapannya agar Kota Pontianak dapat mencetak banyak master internasional hingga grandmaster melalui pembinaan sejak dini dan intensitas kompetisi. Terlebih menurutnya, catur tidak memerlukan ruang yang rumit karena bisa dimainkan di area terbuka maupun tertutup, di mana semakin banyak pecatur amatir dan profesional yang terlibat akan ikut mendongkrak kualitas atlet ke level internasional.

Sasar Swasembada, Lahan Gambut Pontianak Utara Dipertahankan Jadi Sentra Hortikultura
Baca Juga

Sasar Swasembada, Lahan Gambut Pontianak Utara Dipertahankan Jadi Sentra Hortikultura

“Kalau catur relatif ruangannya mudah. Bisa di ruangan tertutup maupun terbuka. Semakin banyak pecatur, baik amatir maupun profesional, pasti akan menaikkan kualitas atlet-atlet catur yang bisa berskala internasional,” imbuhnya.

Dalam laga uji tanding tersebut, Edi secara langsung mencoba menjajal iklim kompetisi melawan atlet profesional. Setelah mengakui keunggulan lawan pada babak pertama, ia mampu memperbaiki permainannya dan menahan imbang MN Arief Rahman pada babak kedua.

“Melawan Mas Arief luar biasa. Yang pertama saya kalah, biasa main grogi, blunder. Tapi yang kedua remis. Bisa remis melawan Master Nasional itu sudah luar biasa,” ucapnya.

Konsistensi Karier Master Nasional
Sementara itu, MN Arief Rahman turut membagikan perjalanan kariernya sebagai bentuk motivasi bagi calon pecatur muda. Mulai mengenal catur dari keluarga sejak kelas 3 SD, Arief rutin berlatih dan mendalami taktik dari buku catur, termasuk mempelajari partai-partai dari Grandmaster asal Rusia, Anatoly Karpov.

Proses latihan tersebut membawanya meraih juara kedua pada kejuaraan tingkat Kota Pontianak saat ia baru duduk di bangku kelas 4 SD. Di tingkat nasional, Arief mencatatkan diri di peringkat ketiga nasional di Surabaya (2007) dan peringkat kedua nasional di Bandung (2008), hingga akhirnya meraih gelar master.

“Tepatnya tahun 2015 saya ikut kejuaraan di Bogor, kejuaraan nasional juga. Di situ saya dapat Master Nasional,” ungkap Arief.

Hari Berkabung Daerah, Pemkot Pontianak Imbau Warga Kibarkan Bendera Setengah Tiang 28 Juni
Baca Juga

Hari Berkabung Daerah, Pemkot Pontianak Imbau Warga Kibarkan Bendera Setengah Tiang 28 Juni

Meski telah meraih gelar di tingkat nasional, Arief mengaku tetap disiplin berlatih setiap hari di luar jadwal turnamen. Saat ini, ia tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi berskala internasional di Kuala Lumpur pada September mendatang.

“Walaupun tidak ada turnamen, saya tetap latihan. Kalau sudah mendekati turnamen, biasanya sebulan sebelumnya latihan lebih ekstra. Yang ingin saya kejar itu internasional,” pungkas Arief.

(Hendrawan)