Langit di atas Desa Pakak, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, mendadak pekat saat petang beranjak malam, Sabtu (16/5/2026). Hujan berintensitas tinggi kemudian tumpah tanpa jeda, membasuh daratan hingga esok paginya.
Mantan Kepala Desa Pakak, Yulius, mengingat betul bagaimana air mulai naik setelah desanya diguyur hujan semalaman penuh sejak pukul 18.30 WIB. Ketika fajar menyingsing pada Minggu (17/5/2026), warga tidak hanya disambut pagi, melainkan juga bencana hidrometeorologi yang meredam aktivitas mereka.

Banjir kali ini menghantam langsung urat nadi pangan warga. Lumbung-lumbung padi yang disimpan di dalam rumah, yang seharusnya menjadi cadangan makanan untuk berbulan-bulan ke depan, tak luput dari kepungan air.
Data Pemkot: 72 Persen Pelaku UMKM di Pontianak Didominasi Perempuan
“Sekitar 40 persen padi yang ada di dalam rumah warga terendam air,” ujar Yulius saat diwawancarai.
Buku-Buku yang Hancur di Sekolah Satu Atap
Tak hanya merusak persediaan pangan, banjir juga meninggalkan jejak kerusakan pada sektor pendidikan di Desa Pakak. Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 7 Satu Atap (Satap) Kayan Hilir kembali terendam. Bagi pihak sekolah dan para siswa, bangunan ini seolah sudah menjadi langganan tahunan tetap setiap kali debit air sungai meluap.

Dampak yang paling memprihatinkan adalah rusaknya fasilitas belajar. Koleksi buku-buku pelajaran yang tersimpan di sekolah hancur akibat terendam air luapan banjir. Peristiwa ini bukan yang pertama, melainkan kejadian berulang yang terus terjadi dari tahun ke tahun.
Audiensi dengan Pertamina, Bupati Ketapang Fokuskan Pemenuhan BBM untuk Sektor Perikanan dan Kawasan 3T
“Setiap tahun buku-buku hancur karena banjir. Harapan kami, mudah-mudahan pihak pemerintah bisa memindahkan bangunan SMPN 7 Satu Atap ini, karena setiap tahun selalu direndam banjir,” tutur Yulius penuh harap.
Kekhawatiran dari Jauh dan Desakan Benahi Hulu
Dampak banjir meluas dengan cepat ke hilir. Desa Lalang Inggar, yang berada di bawah Desa Pakak, turut menerima banjir kiriman. Warga setempat, Yeheskia Herman, mengungkapkan bahwa kondisi di desanya memaksa puluhan kepala keluarga untuk mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman.
“Lebih dari 50 warga masyarakat telah melakukan pengungsian,” kata Yeheskia Herman.
Banjir kali ini bahkan merendam rumah-rumah warga yang selama bertahun-tahun sebelumnya selalu aman dari jangkauan air. Salah satunya adalah kediaman milik Melki Sidik. Saat banjir menerjang, Melki sedang berada jauh di Kampung Umin untuk menjalankan tugas pelayanan keagamaan.
Berada jauh di tempat tugas membuat Melki didera kekhawatiran luar biasa. Di dalam rumah yang terendam itu, terdapat kakek dan neneknya yang sudah lanjut usia (lansia) dan hanya tinggal berdua tanpa pendampingan anak cucu.
“Ketika ada bencana banjir saya sangat khawatir karena tidak berada di rumah. Apalagi ada nenek dan kakek yang sudah lansia tinggal berdua di rumah, sedangkan kami anak cucunya jauh semua. Kami sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah dan BPBD Kabupaten Sintang untuk turun langsung ke desa kami yang terdampak bencana,” ungkap Melki Sidik.
Dukung Swasembada, Kejati Kalbar Hadiri Panen Raya Ketahanan Pangan di Kubu Raya
Menurut Melki, banjir yang melanda desanya merupakan kiriman dari wilayah hulu di Desa Pakak. Ia menilai penanganan jangka pendek saja tidak cukup. Pemerintah diminta untuk melihat akar masalah yang terjadi di kawasan tangkapan air.
“Diharapkan ada tindak lanjut dari pemerintah untuk mengatasi masalah lingkungan dan kondisi hutan di hulu sungai,” tambahnya.
Air Surut, Menjemur Harapan yang Tersisa
Senin (18/5/2026), kecemasan perlahan mereda seiring dengan menyusutnya debit air. Aktivitas di Desa Pakak mulai kembali menggeliat. Di sela-sela lumpur yang tertinggal, warga bergegas menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.

Kesibukan beralih ke halaman-halaman rumah yang mulai kering. Warga bergotong-royong menjemur tumpukan padi yang sempat terendam agar tidak membusuk.
“Air sudah surut, hari ini masih membantu masyarakat untuk menjemur padi,” pungkas Yulius.
Sementara di Lalang Inggar Melki menjelaskan bahwa air bertahan di depan rumahnya meski sudah tidak lagi di dalam rumah sebab sungai sekitaran masih penuh.
Uji Laboratorium DLH: Kualitas Air Parit di Pontianak Meningkat 50 Persen Usai Diberi Eco Enzyme
“Air lagi bertahan karena Sungai Inggar dan Sungai Kayan masih dalam,” ujar Melki, Senin (18/5/2026).
(Dayank Ana Sebalu)
