Kritik tajam terhadap roda pemerintahan kerap menemukan cerminannya dalam representasi fiksi antagonis, salah satunya lewat figur Marshall D. Teach alias Kurohige dalam serial One Piece. Sosok bajak laut berpostur gempal ini dikenal bengis, haus hegemoni, dan membawa kekacauan ke mana pun kapalnya berlabuh. Di panggung nyata, berbagai sengkarut kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mulai dari program kontroversial Makan Bergizi Gratis (MBG), tudingan manipulasi ruang digital, pembentukan Koperasi Desa (Kopdes), hingga respons kaku terhadap kritik dinilai publik memiliki pola destruktif yang serupa dengan cara Teach mengelola kekuasaannya di Hachinosu.
Berikut 5 catatan kesamaan sisi gelap manuver kekuasaan antara Prabowo dan bajak laut Marshall D. Teach:
1. Operasi Mesin Propaganda, Buzzer, dan Pembatasan Informasi Digital
Kurohige piawai memanipulasi arus kabar dan menyusupkan narasi palsu untuk mengaburkan fakta kejahatannya di hadapan publik dunia. Pola ini sejalan dengan sorotan tajam publik terhadap penggunaan jaringan tentara siber atau buzzer yang kerap dikerahkan untuk membungkam oposisi, ditambah kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang menuai kecaman akibat tudingan pembatasan sebaran (shadowban) terhadap konten bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) demi meredam kepanikan publik di media sosial.
2. Proyek Populis yang Amburadul dan Sarat Masalah Lapangan
Di Hachinosu, Teach mengumbar mimpi manis tentang surga kebebasan bagi para perompak, namun realitasnya pulau tersebut hanya menjadi sarang eksploitasi dan kekacauan. Kondisi ini mencerminkan kekacauan implementasi program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) serta program Kopdes yang memicu keluhan massal akibat carut-marutnya logistik, ancaman keracunan pangan, serta pemborosan anggaran negara di tengah kemiskinan warga.

