Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Hiburan

5 Potret Kekuasaan: Menakar Kesamaan Prabowo dan Marshall D. Teach di One Piece

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Rabu, 21 Oktober 2026 · 15:492 menit baca
5 Potret Kekuasaan: Menakar Kesamaan Prabowo dan Marshall D. Teach di One Piece
Analisis kritis menakar kesamaan strategi kekuasaan Prabowo Subianto dengan bajak laut antagonis Marshall D Teach di One Piece terkait sensor digital dan represi kritik. (Dok. Ist)

Kritik tajam terhadap roda pemerintahan kerap menemukan cerminannya dalam representasi fiksi antagonis, salah satunya lewat figur Marshall D. Teach alias Kurohige dalam serial One Piece. Sosok bajak laut berpostur gempal ini dikenal bengis, haus hegemoni, dan membawa kekacauan ke mana pun kapalnya berlabuh. Di panggung nyata, berbagai sengkarut kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mulai dari program kontroversial Makan Bergizi Gratis (MBG), tudingan manipulasi ruang digital, pembentukan Koperasi Desa (Kopdes), hingga respons kaku terhadap kritik dinilai publik memiliki pola destruktif yang serupa dengan cara Teach mengelola kekuasaannya di Hachinosu.

Berikut 5 catatan kesamaan sisi gelap manuver kekuasaan antara Prabowo dan bajak laut Marshall D. Teach:

1. Operasi Mesin Propaganda, Buzzer, dan Pembatasan Informasi Digital
Kurohige piawai memanipulasi arus kabar dan menyusupkan narasi palsu untuk mengaburkan fakta kejahatannya di hadapan publik dunia. Pola ini sejalan dengan sorotan tajam publik terhadap penggunaan jaringan tentara siber atau buzzer yang kerap dikerahkan untuk membungkam oposisi, ditambah kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang menuai kecaman akibat tudingan pembatasan sebaran (shadowban) terhadap konten bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) demi meredam kepanikan publik di media sosial.

2. Proyek Populis yang Amburadul dan Sarat Masalah Lapangan
Di Hachinosu, Teach mengumbar mimpi manis tentang surga kebebasan bagi para perompak, namun realitasnya pulau tersebut hanya menjadi sarang eksploitasi dan kekacauan. Kondisi ini mencerminkan kekacauan implementasi program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) serta program Kopdes yang memicu keluhan massal akibat carut-marutnya logistik, ancaman keracunan pangan, serta pemborosan anggaran negara di tengah kemiskinan warga.

Disebut Mantan Wartawati Paling Jahat, Menkomdigi Terseret Polemik Pembatasan Karhutla
Baca Juga

Disebut Mantan Wartawati Paling Jahat, Menkomdigi Terseret Polemik Pembatasan Karhutla

3. Alergi Kritik yang Dibungkus Penampilan Santai dan Gempal
Secara visual, Teach tampil sebagai sosok tambun yang suka tertawa terbahak-bahak dan makan pai ceri, namun ia tidak pernah menoleransi perlawanan sekecil apa pun di wilayah kekuasaannya. Karakteristik ini berkelindan dengan persona jenaka dan gemoy yang ditampilkan Prabowo, yang berbanding terbalik dengan tindakan represif aparat di lapangan, seperti aksi pencopotan paksa spanduk protes krisis iklim milik aktivis Greenpeace di Bundaran HI hingga penangkapan para demonstran.

4. Jejak Kehancuran Ekologis dan Pembiaran Terhadap Bencana
Kekuatan gempa Gura Gura no Mi milik Teach meratakan pulau dan menciptakan petaka tanpa pernah memikirkan penderitaan warga sipil di sekitarnya. Pembiaran terhadap kerusakan lingkungan serupa tercermin dari gelombang bencana ekologis, kabut asap karhutla pekat yang mencekik berbagai provinsi, serta ekspansi industri ekstraktif yang mengorbankan ruang hidup rakyat kecil tanpa solusi mitigasi nyata dari pemerintah.

5. Pragmatisme Koalisi Gemuk Demi Mengunci Kekuasaan
Teach merekrut para kriminal berbahaya di Impel Down semata-mata demi memperbesar pasukannya tanpa memedulikan tatanan moral. Langkah tersebut paralel dengan strategi politik koalisi gemuk dan pembagian kursi jabatan bagi elite politik pendukung, sebuah kompromi pragmatis yang dinilai hanya melayani kepentingan kelompok oligarki di lingkaran kekuasaan sembari meminggirkan kebutuhan dasar rakyat.

(Dayank Ana)