Jum, 12/06/26 · 18.03.26
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Maju di Pemilihan Rektor IAIN Pontianak, Nelly Mujahidah Bawa Visi Transformasi Kampus Berdaya Saing Global

Hendrawan
Hendrawan
Jumat, 12 Juni 2026 · 23:376 menit baca
Maju di Pemilihan Rektor IAIN Pontianak, Nelly Mujahidah Bawa Visi Transformasi Kampus Berdaya Saing Global
Nelly Mujahidah resmi maju dalam Pemilihan Rektor IAIN Pontianak periode 2026-2030. Ia membawa target transformasi UIN Pontianak pada 2027 dan penguatan kampus perbatasan. (Dok. Nelly Mujahidah)

Kontestasi pemilihan Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak periode 2026–2030 menyuguhkan dinamika baru yang kompetitif. Di antara jajaran kandidat yang muncul, nama Nelly Mujahidah mencuat sebagai salah satu figur kuat yang membawa tawaran segar. Mengombinasikan latar belakang pendidikan multidisiplin, rekam jejak pengabdian yang panjang, serta visi strategis yang berorientasi pada kawasan perbatasan, ia menyatakan kesiapannya untuk mewakafkan diri demi membawa institusi ini melompat ke kancah internasional.

Rekam Jejak Akademik dan Kedalaman Kompetensi
Lahir di Pontianak pada 2 Februari 1974, Nelly bukanlah figur asing di lingkungan IAIN Pontianak. Dirinya telah mendedikasikan diri sebagai abdi negara di kampus ini selama lebih dari 26 tahun. Saat ini, ia mengemban jabatan fungsional sebagai Lektor Kepala dan aktif mengajar pada Program Pascasarjana di Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

Nelly mengungkapkan bahwa keputusannya untuk maju didorong oleh kesadaran mendalam akan tanggung jawab regenerasi institusi di masa transisi krusial.

Bareskrim Sita Pabrik Sidoarjo Penampung Emas Ilegal Asal Kalimantan Barat
Baca Juga

Bareskrim Sita Pabrik Sidoarjo Penampung Emas Ilegal Asal Kalimantan Barat

“Lembaga pendidikan tinggi, sebagaimana organisasi dinamis lainnya, menempatkan sirkulasi kepemimpinan sebagai sebuah keniscayaan akademik. Masa kerja lebih dari 26 tahun di lingkungan ini memberikan saya perspektif utuh lintas periode. Ini saatnya mengeksekusi cetak biru ideal tentang bagaimana arah masa depan kampus ini harus dibawa melalui kewenangan manajerial tertinggi,” ujarnya saat diwawancarai di ruangannya pada Kamis (11/6/2026).

Hal yang paling membedakan Nelly dari kandidat lainnya adalah bentang perjalanan akademiknya yang melintasi rumpun keilmuan yang berbeda:

S-1: Pendidikan Bahasa Arab di STAIN Pontianak (lulus 1998)

S-1: Teknik Elektro di Universitas Tanjungpura Pontianak (lulus 1999)

Massa Desak DPRD Kalbar Evaluasi Anggaran Mobil Dinas dan Kenaikan BBM
Baca Juga

Massa Desak DPRD Kalbar Evaluasi Anggaran Mobil Dinas dan Kenaikan BBM

S-2: Pendidikan Islam di IAIN Walisongo Semarang (lulus 2006)

S-3: Pengembangan Kurikulum di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung (lulus 2022)

Perpaduan antara ilmu keislaman, teknologi, serta kepakaran di bidang pengembangan kurikulum menjadikannya sosok yang adaptif terhadap tantangan modernisasi tata kelola pendidikan tinggi di era digital. Pengalaman manajerialnya pun matang; ia tercatat pernah diamanahi tanggung jawab sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (2010–2014) dan Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Arab FTIK IAIN Pontianak (2014–2016).

Di level internasional, reputasi akademiknya diperkuat lewat keterlibatannya sebagai narasumber ilmiah global. Beberapa di antaranya meliputi forum International Conference of Islamic Manuscript (ICIM) yang diselenggarakan oleh Balai Khazanah Sultan Haji Hassanal Bolkiah di Brunei Darussalam (2025), serta Konferensi Internasional Borneo (KAIB) di UiTM Kuching, Sarawak, Malaysia (2022).

Visi Besar: Menuju Kampus Bermartabat dan Berdaya Saing Global
Melalui dokumen cetak biru strategisnya, Visi Misi Rektor IAIN Pontianak 2026–2030, Nelly Mujahidah mengusung visi utama yang progresif namun tetap berpijak pada akar sosiologis masyarakat, yakni:

Pemerintah Soroti Lambatnya Pelayanan Rumah Sakit Daerah di Tengah Fleksibilitas BLUD
Baca Juga

Pemerintah Soroti Lambatnya Pelayanan Rumah Sakit Daerah di Tengah Fleksibilitas BLUD

“Menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang Bermartabat, Berintegritas, Amanah Mencerdaskan Umat, serta Berdaya Saing Global Berbasis Kearifan Lokal dan Keislaman Moderat pada Tahun 2030.”

Guna mengejawantahkan visi tersebut, ia merumuskan tujuh misi kepemimpinan:

Menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran yang berintegritas, inovatif, dan berbasis Outcome-Based Education (OBE).

Mengembangkan penelitian yang unggul, kolaboratif, dan berkontribusi tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemaslahatan umat.

Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat berbasis riset untuk pemberdayaan masyarakat, khususnya di wilayah 3T dan perbatasan.

Mewujudkan tata kelola perguruan tinggi yang amanah, profesional, transparan, dan akuntabel berbasis digital.

Mengembangkan kemitraan strategis yang saling menguntungkan di tingkat daerah, nasional, dan internasional.

Rumah Warga Roboh di Pontianak Timur, Pemkot Evaluasi Skema Pendataan Bottom-Up
Baca Juga

Rumah Warga Roboh di Pontianak Timur, Pemkot Evaluasi Skema Pendataan Bottom-Up

Menanamkan nilai-nilai Islam yang bermartabat, moderat, inklusif, dan berwawasan kebangsaan bagi seluruh sivitas akademika.

Membangun citra positif kampus di mata masyarakat dengan mengedepankan informasi akurat yang jujur dan bertanggung jawab.

Dua Agenda Strategis Akselerasi
Dalam implementasi kebijakannya kelak, arah kepemimpinan Nelly Mujahidah akan dititikberatkan pada dua agenda besar yang bersifat akseleratif dan berdampak langsung terhadap institusi:

1. Akselerasi Transformasi Menjadi UIN Pontianak (Target 2027)
Nelly memandang masa jabatan mendatang sebagai fase transisi yang sangat krusial. Selagi institusi masih berstatus institut (IAIN), dirinya yang memegang gelar Doktor dan Lektor Kepala memiliki legalitas penuh untuk memimpin dan mengawal transisi ini. Sebagai pakar kurikulum, ia akan memimpin langsung integrasi ilmu keislaman dan sains umum, serta membuka program studi interdisipliner baru yang relevan dengan tuntutan zaman.

“Perguruan tinggi keagamaan Islam membawa label nilai yang sakral. Konsekuensinya, implementasi nilai-nilai keislaman dan keilmuan di kampus ini harus memiliki distingsi substansial yang membedakannya secara tegas dari perguruan tinggi umum. Kita tidak bisa lagi sekadar berwacana di ruang seminar tanpa otoritas eksekusi. Dengan menjadi orang nomor satu, seluruh instrumen kebijakan, penataan struktur, dan integrasi kurikulum sains-Islam akan digerakkan secara linier demi menuntaskan transformasi menjadi UIN Pontianak pada tahun 2027,” tegas Nelly.

2. Menjadikan IAIN Pontianak sebagai Kampus Perbatasan Unggulan
Memanfaatkan posisi geopolitik Kalimantan Barat yang strategis, Nelly memproyeksikan kampus ini sebagai Center of Excellence (Pusat Keunggulan) di kawasan perbatasan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Rencana konkret ini akan diwujudkan melalui pengembangan kurikulum kontekstual yang mengintegrasikan isu lintas budaya, penguatan riset unggulan perbatasan (border studies), serta pembentukan desa binaan tematik berkelanjutan di wilayah perbatasan seperti Entikong, Aruk, Jagoi Babang, dan Temajuk.

Standardisasi Mutu: Target 30% Prodi Unggul dan Integrasi Digital Satu Klik
Sebagai sosok yang pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi dan dua kali mengomandoi panitia akreditasi, ia memahami betul rumitnya mempertahankan sekaligus menaikkan mutu program studi (Prodi) ke tingkat tertinggi. Jika diberi amanah memimpin, ia menargetkan lompatan besar pada status akreditasi Prodi di IAIN Pontianak.

“Mutu program studi yang terakreditasi maksimal (Unggul) adalah modal nilai jual utama kita kepada stakeholder. Target saya, setidaknya sepertiga atau sekitar 30% dari total program studi yang ada di kampus ini sudah meraih predikat Unggul saat saya menjabat nanti. Kita punya modal itu, seperti halnya Prodi PIAUD di Tarbiyah yang baru-baru ini sukses meraih predikat Unggul,” cetusnya.

Polda Kalbar Akui Sarana Terbatas Saat Latih Personel Kelola Informasi Digital
Baca Juga

Polda Kalbar Akui Sarana Terbatas Saat Latih Personel Kelola Informasi Digital

Kendati demikian, pakar kurikulum ini menggarisbawahi bahwa raihan tersebut menuntut keselarasan sarana prasarana serta rasio input-output mahasiswa yang ketat. Menurutnya, pemenuhan administratif borang hingga persiapan asesmen lapangan memerlukan sinergi total, bukan kerja parsial.

“Meraih predikat Unggul itu tidak mudah. Harus ada kekompakan yang solid mulai dari level program studi, fakultas, hingga institut. Ini adalah kerja bersama. Selain itu, keseimbangan input dan output mahasiswa harus selaras. Jika yang masuk 100 orang dalam setahun, setidaknya 75 orang harus lulus tepat waktu. Di era digitalisasi saat ini, pengisian portofolio tidak lagi manual. Kampus ini membutuhkan otomatisasi melalui sinkronisasi sistem. Beragam aplikasi untuk mahasiswa, dosen, dan prodi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, semuanya harus terintegrasi dalam ‘satu klik’ agar seluruh data akademik dapat diakses secara cepat dan akurat,” papar Nelly menjabarkan digitalisasi tata kelola yang diusungnya.

Prinsip “Selesai dengan Diri Sendiri” dan Komitmen Inklusivitas
Di balik rancangan akademisnya yang megah, Nelly Mujahidah membawa dorongan personal yang menyentuh esensi kepemimpinan murni. Ia menegaskan bahwa keikutsertaannya dalam bursa pemilihan ini didasari atas niat tulus untuk mengabdi di sisa masa baktinya hingga masa pensiun tiba.

“Orientasi kepemimpinan saya murni pengabdian institusional, bukan pemburuan legalitas formal maupun profitabilitas personal. Secara akademik dan fungsional, saya telah selesai dengan capaian diri saya sendiri, gelar doktor telah diraih, posisi Lektor Kepala telah di tangan. Kini, sisa masa bakti akademis ini sepenuhnya saya wakafkan untuk menaikkan kelas lembaga ini ke panggung global,” ungkapnya.

Komitmen sosialnya terhadap masyarakat kelas bawah diwujudkan lewat kebijakan pendidikan yang inklusif. Ia menjamin bahwa lompatan status menjadi universitas tidak akan mengorbankan masyarakat kecil melalui lonjakan biaya pendidikan. Sebaliknya, melalui strategi “Jemput Bola” dan kemitraan erat bersama Pemerintah Daerah (Pemda), ia berkomitmen menyediakan skema beasiswa, jaminan kelulusan tepat waktu (4 tahun), serta penyediaan fasilitas asrama yang terjangkau bahkan gratis bagi mahasiswa dari keluarga sederhana dan wilayah pelosok Kalimantan Barat.

Nelly memandang eksistensi mahasiswa dan mutu alumni sebagai indikator paling sahih dari keberhasilan sebuah universitas dalam memimpin perubahan sosial di daerah.

“Indikator kemajuan kampus tidak diukur dari kemegahan infrastruktur fisik semata, melainkan dari kepuasan dan impak alumni di tengah masyarakat. Ketika kompetensi alumni kita diakui di Kapuas Hulu, Sambas, hingga Melawi, mereka akan menjadi duta promosi organik terbaik yang menggerakkan generasi baru di daerahnya untuk menimba ilmu di sini. Sebuah universitas kehilangan relevansinya tanpa kehadiran mahasiswa; karena itu, memperluas akses pendidikan inklusif bagi anak-anak daerah adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar,” pungkasnya.

Dengan profil keilmuan multidisiplin yang kokoh serta integritas kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan publik, Nelly Mujahidah menawarkan peta jalan yang terukur untuk membawa IAIN Pontianak bertransformasi menjadi universitas Islam yang unggul, inklusif, dan diperhitungkan di kancah global.

(Hendrawan)