Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Demokrasi

Aksi “Rakyat Kalbar Menggugat” di Bundaran Digulis Tuntut Usut Tuntas Kekerasan Demo Karhutla

Hendrawan
Hendrawan
Kamis, 22 Oktober 2026 · 21:414 menit baca
Aksi “Rakyat Kalbar Menggugat” di Bundaran Digulis Tuntut Usut Tuntas Kekerasan Demo Karhutla
Aliansi Kalbar Menggugat menggelar aksi di Bundaran Digulis Pontianak untuk menuntut penuntasan kasus kekerasan dan penganiayaan mahasiswa ke Polda Kalbar. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Kalbar Menggugat bersama barisan emak-emak kembali menggelar unjuk rasa bertajuk “Rakyat Kalbar Menggugat dan Bergerak: Panggilan Serempak Revolusi Kalimantan Barat” di kawasan Bundaran Digulis, Pontianak, pada Kamis (22/10/2026) pukul 15.00 WIB.

Aksi damai yang diwarnai pembentangan spanduk kritik ekologis dengan narasi sentral “Suara Kita Tidak Bisa Dibakar!” tersebut menyoroti tuntutan isu lingkungan hidup dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus menuntut kepastian hukum atas insiden kekerasan yang menimpa peserta unjuk rasa pada hari pertama aksi di Bundaran Digulis dan halaman Kantor Gubernur Kalbar.

Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak, Muhammad Iqbal, menegaskan bahwa gerakan ini dipicu oleh sikap kepala daerah yang enggan menemui massa aksi serta tindakan kekerasan fisik oleh oknum tidak bertanggung jawab terhadap mahasiswa.

Demonstrasi Mahasiswa di Pontianak Berujung Bentrok, Korban Penganiayaan Oknum Ormas Tempuh Jalur Hukum
Baca Juga

Demonstrasi Mahasiswa di Pontianak Berujung Bentrok, Korban Penganiayaan Oknum Ormas Tempuh Jalur Hukum

“Tapi terima kasih juga atas dari pengawalan-pengawalan tuntutan yang ada di 20 titik tuntutan tersebut,” ujar Iqbal.

Iqbal mengungkapkan bahwa eskalasi kekerasan pada hari pertama telah memakan korban luka di bagian kepala, lebam di tubuh, hingga ancaman fisik langsung saat ia memimpin orasi.

“Salah satu juga yang menjadi fokus tadi juga, laporan dari mahasiswa ke Polda Kalbar, terkait pemukulan. Nah, terkait laporan pemukulan ke Polda Kalbar ini, saya juga ada sebagai saksi melihat untuk teman-teman melaporkan ke Polda Kalbar. Nah, untuk LP tersebut yang ada di Polda Kalbar adalah teman-teman yang terjadi pemukulan di hari pertama. Baik dari Digulis maupun di Kantor Gubernur. Nah, di situ laporan tersebut, teman-teman tuh merasakan Kalau tidak ada laporan, bakal aksi selanjutnya bakal dipukul lagi seperti itu,’” pangkasnya.

Ia menceritakan secara mendalam mengenai kondisi fisik para korban serta tindakan represif yang dialami jajarannya di lapangan.

BNPB Catat Karhutla Mendominasi, Lahan Terbakar di Raja Ampat Tembus 357 Hektare
Baca Juga

BNPB Catat Karhutla Mendominasi, Lahan Terbakar di Raja Ampat Tembus 357 Hektare

“Kalau yang kepala itu ada, Bang. Ada yang kepala, kemudian ada yang badan-badan yang laba-laba pun ada, ada yang luka di sini ada. Nah, saya sendiri juga mengalami pada saat saya orasi di Digulis, saya itu di apa lah akhirnya saya jatuh, kemudian saya diterjang mukanya sih. Cuma memang enggak ada bekas, Bang. Saya langsung menghindar langsung, sehingga terhindar kena kaki-kaki orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu. Kemudian kawan-kawan yang lain seperti perempuan lain tuh kena pangkung kayu seperti itu, Bang. Khususnya anggota sayalah di kampus Polnep,” tutur Presma Polnep tersebut.

Lebih lanjut, Iqbal mendesak aparat kepolisian dan media massa untuk mengawal tuntas laporan polisi yang telah dilayangkan agar penganiayaan tersebut tidak menguap begitu saja tanpa kejelasan hukum.

“Jadi kami juga minta Polda Kalbar ini khususnya Kalimantan Barat harus dia mengawal daripada ini. Bukan hanya mengawal sih, mengawal ini adalah lanjut. Baik itu dari duga-dugaan yang terjadi kan isu-isu miringnya yang terjadi di media sosial, agar tidak kemana-mana. Nah, makanya ya harus ada siapa sih pelaku-pelaku tersebut?” tegasnya.

Muhammad Iqbal menuturkan bahwa pihak mahasiswa belum menerima tindak lanjut pengusutan hukum atas insiden kekerasan tersebut, sehingga ia meminta pers dan publik turut mengawal penanganan kasusnya. 

“Sejauh ini kita belum mendapatkan pengawalan proses lebih lanjut. Makanya kami mohon media pers mengawal langkah ini karena atensi dan kemarahan publik begitu besar,” ujar Iqbal.

AQI Setara dengan Menghirup 11,9 Batang Rokok Perhari, Palangkaraya Masuk Daftar 7 Kota Paling Tercemar di Dunia
Baca Juga

AQI Setara dengan Menghirup 11,9 Batang Rokok Perhari, Palangkaraya Masuk Daftar 7 Kota Paling Tercemar di Dunia

Mengenai alasan berulangnya aksi di jalanan, Iqbal menyayangkan respons pemerintah daerah yang terkesan mengabaikan aspirasi warga dan isu penyelamatan hutan demi masa depan generasi mendatang.

“Nah, sebetulnya kita pengin kepala daerah itu hadir. Hanya itu aja, Bang. Ketika hadir, artinya menjelaskan kan daripada tuntutan-tuntutan yang telah dilayangkan oleh pengawal. Sebelum aksi ini, kita telah melakukan aksi sebelum-sebelumnya, kondusif, tidak memakan ban-ban lain. Tapi jawaban-jawabannya normatif akan hal tersebut. Bahkan bukan hanya ini, Bang, kepada daerah tidak hadir, tapi banyak. Artinya pada saat hari ini kawan-kawan hari pertama, kedua” tambahnya.

Sementara itu, Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Endang Tri Purwanto, mengonfirmasi bahwa aksi penyampaian pendapat di Bundaran Digulis yang dipimpin oleh Presma Polnep berjalan kondusif, meski sempat menimbulkan perlambatan arus lalu lintas.

“Di mana tadi kita lihat titik kumpul yaitu di universitas atau di Polnep yang langsung menuju ke titik aksi ada di Bundaran Digulis, tepatnya di depan Bank Kalbar,” jelas Kombes Pol Endang Tri Purwanto.

Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Pontianak ke-255, Kapolresta mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga ketertiban umum dan fasilitas publik.

Kombes Pol Endang Tri Purwanto menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada kurang dari seratus peserta aksi yang telah menyampaikan pendapat secara tertib dan aman, seraya menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna jalan atas munculnya antrean lalu lintas selama kegiatan berlangsung. 

“Massa aksi sangat tertib. Kami dari Kepolisian Polresta Pontianak mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Memang terjadi gangguan Kamseltibcar Lantas berupa antrean, tapi tidak ada kemacetan,” ujar Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto. 

Tangani Dampak Kekeringan dan Karhutla, 1,15 Juta Liter Air Bersih Disalurkan di Tabalong
Baca Juga

Tangani Dampak Kekeringan dan Karhutla, 1,15 Juta Liter Air Bersih Disalurkan di Tabalong

Terkait pengusutan dugaan tindak kekerasan terhadap mahasiswa pada hari pertama aksi, Kapolresta menjelaskan bahwa berkas penanganan perkara sepenuhnya berada di tingkat Markas Kepolisian Daerah (Polda) Kalbar.

“Terkait aksi di Digulis kemarin yang terjadi, di Polresta belum ada laporan. Namun kami mendapat informasi ada laporan di Polda dan juga terlihat di media sosial juga sudah ada laporan di Polda, tentunya ditangani oleh Polda,” pungkas Kapolresta Pontianak.

(Hendrawan)