Semangat kesetaraan dan kepedulian lingkungan dihadirkan secara nyata di pelosok Kubu Raya pada Minggu (28/6/2026). Melanjutkan peluncuran E-Book Ekoteologi Ramah Disabilitas Netra, kelompok inisiator Tepelima 7 kembali memperluas aksesibilitas melalui aksi sosial kolaboratif di Rumah Belajar Madani, Desa Mekarsari, Dusun Madani. Misi ekoteologi tersebut diwujudkan dalam aksi lapangan inklusif yang menggabungkan edukasi pertanian tanggap banjir (vertikultur), penguatan literasi anak desa, hingga kelas bahasa isyarat bersama West Borneo Deaf Community (WBDC).
Wadahi Minat Anak Desa dan Perkuat Ekosistem Literasi
Aksi sosial kolaboratif yang diinisiasi oleh kelompok Tepelima 7 ini disambut hangat oleh pihak Rumah Belajar Madani. Sebagai ruang belajar alternatif di kawasan pelosok Dusun Madani, lembaga swadaya ini berkomitmen melengkapi aspek pembelajaran yang belum sepenuhnya tersentuh di bangku sekolah formal. Kehadiran berbagai komunitas luar dalam agenda ini menjadi amunisi penting dalam memperluas cakrawala anak-anak desa.

Pengelola Rumah Belajar Madani, Ahmad Safi’i, mengungkapkan bahwa kehadiran para relawan dan komunitas sangat membantu dalam memberikan ruang berekspresi bagi anak-anak. Menurutnya, kurikulum sekolah formal yang padat sering kali membuat pendalaman minat dan bakat anak menjadi terbatas.
Baca Juga Suarakan Hak Disabilitas, Dhyta Keluhkan Layanan Publik yang Belum Optimal
“Selama ini memang kami mencoba meng-cover apa yang tidak dapat di sekolah mereka. Kayak kesenian mereka terbatas kan, kegiatan mereka banyak di mata pelajaran umum dan segala macam. Jadi apa yang mereka tidak bisa tekuni atau diperdalam di sekolah, kami mencoba meng-cover itu,” ujar Ahmad di sela-sela kegiatan.
Ahmad menambahkan, melalui ruang alternatif seperti Rumah Belajar Madani ini, anak-anak bisa mendapatkan porsi perhatian yang lebih besar dalam mengembangkan potensi non-akademik mereka.
“Kayak contohnya mereka ada ekskul, kadang menggambar cuma pada beberapa jam. Tapi di sini kita bisa memberikan waktu lebih lama dan pendampingan seperti itu,” pungkas Ahmad.
Tidak hanya sekadar menjadi ruang pendampingan minat dan bakat, Rumah Belajar Madani perlahan juga bertransformasi menjadi pusat literasi sekaligus titik kumpul (basecamp) yang nyaman bagi anak-anak di Dusun Madani dan desa sekitarnya. Ekosistem literasi yang terus berdenyut di tempat ini tidak lepas dari sinergi yang kuat dengan jejaring komunitas dari luar daerah.
Baca Juga Cerita Arini Terapkan Pola Asuh Isyarat dan Komunikasi Visual Bersama Dua Anaknya
Ahmad menuturkan, ketersediaan bahan bacaan dan koleksi buku di tempatnya banyak mendapat dukungan dari para pegiat literasi, di antaranya komunitas Ponti Baca dan Saka. Kehadiran komunitas-komunitas inilah yang memastikan anak-anak pedesaan tetap mendapatkan akses terhadap jendela dunia.
“Buku yang tersedia di sini (berasal) dari kawan-kawan yang di luar, dari Ponti Baca, dari Saka. Jadi mereka kalau main ke sini, mereka sekalian bawa-bawa buku,” jelas Ahmad.
Pendekatan literasi di Rumah Belajar Madani dibuat sangat organik dan tidak kaku layaknya perpustakaan formal. Buku-buku tersebut dibiarkan mudah dijangkau oleh anak-anak kapan saja, menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian tak terpisahkan dari waktu bermain mereka.
“Peruntukannya tentu saja untuk anak-anak di sini. Kadang pada saat hari libur, kemudian pulang sekolah, mereka main ke sini sesekali sambil buka buku,” tambahnya.
Daya tarik Rumah Belajar Madani rupanya juga meluas hingga ke luar batas dusun. Tempat ini telah menjelma menjadi ruang interaksi sosial yang positif bagi anak-anak lintas wilayah.
“Beberapa kadang ada yang dari dusun sebelah main kesini. Karena kebetulan disini semacam jadi basecamp tempat main, jadi mereka ngumpul di sini. Kadang nampak buku, ya baca juga,” papar Ahmad dengan antusias.
Baca Juga Hari Kelima, Tim SAR Gabungan Sisir Habitat Buaya Cari Pemancing Hilang di Batu Ampar
Edukasi Vertikultur Sebagai Mitigasi Banjir
Selain literasi, agenda utama yang dibawa oleh Tepelima 7 dalam aksi kolaboratif ini adalah implementasi nyata dari konsep ekoteologi melalui edukasi pertanian cerdas. Anak-anak di Rumah Belajar Madani diajarkan teknik bertanam sayur menggunakan sistem vertikultur. Langkah ini diambil sebagai respons adaptif terhadap kondisi geografis dan tata ruang di wilayah tersebut.
Ahmad Safi’i menjelaskan bahwa area pemukiman di Dusun Madani memiliki lahan yang terbatas. Oleh karena itu, edukasi ini menjadi penting agar anak-anak sejak dini mampu memaksimalkan lahan sempit secara efektif. Namun, alasan krusial lainnya bukan sekadar soal luas lahan, melainkan strategi mitigasi bencana lingkungan, mengingat kawasan Pontianak dan Kubu Raya merupakan daerah yang sangat rawan terdampak banjir saat musim penghujan tiba.
“Kalau menanam model konvensional, kadang belum sampai panen sudah kena banjir. Jadi dengan vertikultur yang susunannya menjajar ke atas, diharapkan tanaman tidak terkena genangan air banjir dan warga bisa panen dengan aman,” ungkap Ahmad.
Lebih dari sekadar teknik bertani, kegiatan ini juga menjadi wujud eksistensi dan sarana merajut kebersamaan masyarakat pelosok desa.
“Karena kami disini sangat jauh dari kota, kami ingin menunjukkan bahwa meski berada di pelosok, kami aktif dalam kegiatan sosial yang bermanfaat. Apalagi di sini kami bukan cuma menanam, hasilnya nanti juga kita masak dan makan bersama-sama,” tambahnya.
Bahasa Isyarat Pengikis Sekat Komunikasi
Puncak inklusivitas dari rangkaian acara ini terwujud lewat kelas bahasa isyarat. Jika sebelumnya kampanye Tepelima 7 berfokus pada inovasi literasi bagi penyandang disabilitas netra lewat peluncuran E-Book Ekoteologi, kali ini mereka memperluas makna inklusivitas dengan merangkul teman-teman Tuli dari West Borneo Deaf Community (WBDC). Tujuannya adalah membangun jembatan komunikasi langsung dengan anak-anak dengar (hearing children) di Desa Mekarsari.
Kehadiran teman-teman WBDC disambut dengan kehangatan dan rasa ingin tahu yang besar. Keterbatasan komunikasi luruh seketika saat anak-anak desa tersebut dengan tekun mencoba menirukan setiap gerakan tangan yang diajarkan.
Baca Juga Sita 2.060 Balepress Senilai Rp16 Miliar, Bea Cukai Kalbagbar Belum Tetapkan Tersangka

Melalui bantuan terjemahan dari Arul yang bertugas sebagai Juru Bahasa Isyarat (JBI) pada kegiatan tersebut, Yusi dan Amira selaku perwakilan WBDC membagikan rasa haru sekaligus bangga atas momen ini.
“Alhamdulillah, ini pertama kalinya kami dari West Borneo Deaf Community datang ke Kubu Raya, tepatnya di Rumah Belajar Madani. Kami berkesempatan mengajar anak-anak dengar, dan saya benar-benar merasa bahagia melihat respon teman-teman di sini yang sangat senang belajar bahasa isyarat,” ungkap Yusi, yang pesan isyaratnya disuarakan oleh Arul.
Bagi Yusi dan Amira, menjembatani dua dunia yang berbeda tidak memerlukan langkah yang langsung sempurna, melainkan sekadar keberanian untuk memulai. Mereka menyadari bahwa terkadang masyarakat awam merasa canggung atau takut salah saat mencoba berkomunikasi.
“Tidak apa-apa, yang penting berani belajar bahasa isyarat saja dulu, tujuannya sederhana, buat komunikasi dengan teman-teman Tuli,” tambahnya.
Melalui perantaraan Arul, Yusi dan Amira juga memberikan dorongan lebih jauh. Bagi masyarakat dengar baik anak-anak maupun orang dewasa yang tertarik dan ingin memperdalam kemampuan bahasa isyaratnya, mereka mengarahkan untuk langsung datang belajar ke Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat (Pusbisindo).
Kolaborasi lintas komunitas antara Tepelima 7, Rumah Belajar Madani, dan WBDC ini pada akhirnya bukan sekadar agenda satu hari, melainkan sebuah pijakan awal untuk membangun ekosistem masyarakat yang lebih inklusif. Melalui edukasi sejak dini, tersemat harapan besar agar anak-anak di pedesaan kelak mampu merangkul teman-teman Tuli dalam interaksi sehari-hari tanpa adanya sekat pemisah.
Namun, lebih dari sekadar mampu berkomunikasi, aksi kolaboratif ini menjadi panggung untuk menyuarakan pemenuhan kesetaraan hak. Di penghujung kegiatan, perwakilan WBDC menitipkan pesan yang tegas mengenai realitas yang masih dihadapi oleh penyandang disabilitas di ruang publik.
Baca Juga DPR RI Bahas RUU Kota Pontianak, Sengketa Batas Perumnas IV Jadi Catatan
“Harapan saya, semoga teman-teman (disabilitas) bisa mendapatkan haknya; hak kerja, kuliah, dan mendapatkan aksesnya. Karena memang teman-teman juga sangat-sangat terhambat dalam keadaan seperti ini,” ungkapnya penuh harap.
Ia kembali menegaskan bahwa inklusivitas bukanlah sebuah keistimewaan, melainkan hak dasar yang harus dipenuhi di berbagai lini kehidupan.
“Dan saya berharap, semuanya bisa mendapatkan haknya di bidang pendidikan, kerja, dan seluruh aspek akses apapun. Terima kasih,” tutupnya.
Sinergi yang terbangun di Dusun Madani ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian terhadap literasi, pelestarian lingkungan melalui ekoteologi, serta perjuangan kesetaraan disabilitas dapat berjalan beriringan menembus batas aksesibilitas hingga ke pelosok desa.
(Hendrawan)